Kisah Musa -'alaihis-salām- bersama Khiḍir

Islam > Hadis > Akidah > Kisah Musa -'alaihis-salām- bersama Khiḍir

Hadits diriwayatkan oleh Muttafaq 'alaih

Hadis sahih

Diperbarui pada 26 Oktober 2026 pukul 23.26

📖 6 menit baca

Teks hadits: Kisah Musa -'alaihis-salām- bersama Khiḍir

عن سعيد بن جُبير، قال: قلتُ لابن عباس: إنَّ نَوْفًا البَكالي يزعم أنَّ موسى ليس بموسى بني إسرائيل، إنما هو موسَى آخر؟ فقال: كذبَ عدوُّ الله، حدثنا أُبَي بن كعب عن النبي صلى الله عليه وسلم: «قام موسى النبيُّ خطيبًا في بني إسرائيل، فسُئل أيُّ الناس أعلم؟ فقال: أنا أعلم، فعتب الله عليه، إذ لم يَرُدَّ العلم إليه، فأوحى الله إليه: أنَّ عبدًا من عبادي بمَجْمَع البحرين، هو أعلم منك. قال: يا رب، وكيف به؟ فقيل له: احمل حوتًا في مِكْتَل، فإذا فقدتَه فهو ثَمَّ، فانطلق وانطلق بفتاه يُوشِع بن نُون، وحملا حوتًا في مِكْتَل، حتى كانا عند الصخرة وضعا رءوسهما وناما، فانسلَّ الحوتُ من المِكْتَل فاتخذ سبيله في البحر سَرَبًا، وكان لموسى وفتاه عَجَبًا، فانطلقا بقية ليلتهما ويومهما، فلما أصبح قال موسى لفتاه: آتنا غداءنا، لقد لَقِينا من سفرنا هذا نَصَبًا، ولم يجد موسى مسًّا من النَّصَب حتى جاوز المكان الذي أُمِر به، فقال له فتاه: أرأيتَ إذ أوينا إلى الصخرة فإني نسيتُ الحوتَ، وما أنسانيهُ إلا الشيطانُ. قال موسى: ذلك ما كنا نَبْغي فارتدَّا على آثارِهما قصصًا. فلما انتهيا إلى الصخرة، إذا رجل مُسَجًّى بثوب، أو قال تَسَجَّى بثوبه، فسلَّم موسى، فقال الخَضِر: وأنَّى بأرضك السلام؟ فقال: أنا موسى، فقال: موسى بني إسرائيل؟ قال: نعم، قال: هل أتَّبِعُك على أن تُعَلِّمَني مما عُلِّمْتَ رُشْدًا قال: إنَّك لن تستطيع معيَ صبرا، يا موسى إني على علم من علم الله علَّمَنيه لا تعلمه أنت، وأنت على علم علَّمَكَه لا أعلمه، قال: ستجدني إن شاء الله صابرا، ولا أعصي لك أمرا، فانطلقا يمشيان على ساحل البحر، ليس لهما سفينة، فمرَّت بهما سفينة، فكلَّموهم أن يحملوهما، فعرف الخَضِر فحملوهما بغير نَوْل، فجاء عصفور، فوقع على حرف السفينة، فنقر نقرة أو نقرتين في البحر، فقال الخضر: يا موسى ما نقص علمي وعلمك من علم الله إلا كنقرة هذا العصفور في البحر، فعَمَد الخضر إلى لوح من ألواح السفينة، فنزعه، فقال موسى: قوم حملونا بغير نَوْل عَمَدتَ إلى سفينتهم فخرقتها لتُغْرِق أهلها؟ قال: ألم أقل إنك لن تستطيع معي صبرا؟ قال: لا تؤاخذني بما نسيتُ ولا تُرْهِقْني من أمري عُسْرًا -فكانت الأولى من موسى نسياناً-، فانطلقا، فإذا غُلام يلعب مع الغِلمان، فأخذ الخَضِر برأسه من أعلاه فاقتلع رأسه بيده، فقال موسى: أقتلتَ نفسا زكِيَّة بغير نفس؟ قال: ألم أقل لك إنك لن تستطيع معي صبرا؟ -قال ابن عيينة: وهذا أوكد- فانطلقا، حتى إذا أتيا أهل قرية استَطْعما أهلَها، فأَبَوْا أن يُضَيِّفوهما، فوجدا فيها جدارًا يريد أن يَنْقَضَّ فأقامه، قال الخضر: بيده فأقامه، فقال له موسى: لو شئتَ لاتخذتَ عليه أجرا، قال: هذا فِراق بيني وبينك». قال النبي صلى الله عليه وسلم: «يرحمُ اللهُ موسى، لوَدِدْنا لو صبر حتى يُقَصَّ علينا من أمرهما».

Penjelasan hadits: Kisah Musa -'alaihis-salām- bersama Khiḍir

Sa'īd bin Jubair berkata bahwa dia memberitahu Ibnu Abbas bahwa seseorang bernama Nauf Al-Bakāli mengklaim bahwa Musa yang bersama Khiḍir bukanlah Musa yang diutus kepada Bani Israil, namun dia adalah Musa yang lain. Maka Ibnu Abbas berkata, “Musuh Allah telah berdusta.” Ucapan ini beliau ucapkan sebagai teguran keras dan peringatan, bukan celaan terhadap Nauf karena Ibnu Abbas mengatakan hal itu dalam keadaan marah, dan kebanyakan ungkapan kemarahan itu terlontar bukan sesuai makna hakikinya, adapun penyematan kata dusta kepadanya dikarenakan ia mengatakan sesuatu yang menyelisihi fakta serta hal itu tidak berarti ia sengaja berdusta.

Kemudian Ibnu Abbas berdalil atas kedustaan Nauf bahwa Ubay bin Ka’ab telah menceritakan dari Nabi -șallallāhu ‘alaihi wa sallam- bahwa Musa berdiri menyampaikan khutbah di hadapan Bani Israil, lalu seseorang bertanya kepadanya, “Siapa manusia yang paling berilmu?” Musa menjawab, “Aku manusia yang paling berilmu.” Ini diucapkan oleh Musa -‘alaihis-salām- sesuai dengan keyakinannya, maka Allah -‘Azzā wa Jallā- menegurnya karena tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya dan tidak mengatakan, “Allah Yang Maha Mengetahui.” Lantas Allah -Ta’ālā- mewahyukan kepadanya bahwa ada seorang hamba di antara hamba-hamba-Ku yang bernama Khiḍir di tempat pertemuan dua lautan, dia lebih berilmu darimu. Musa pun berkata, “Wahai Rabb, bagaimanakah cara untuk menemuinya?” Allah berkata kepadanya, “Bawalah seekor ikan di dalam keranjang, jika ikan itu lepas maka engkau akan menemukan Khiḍir di sana. Lalu Musa berangkat bersama seorang pembantunya yang bernama Yūsya’ bin Nūn dan mereka membawa seekor ikan di dalam keranjang sebagaimana yang Allah perintahkan. Hingga ketika mereka berada di sebuah batu besar di pesisir pantai, mereka berdua merebahkan kepala mereka di atas tanah dan tertidur. Lalu ikan itu keluar dari dalam keranjang dan mengambil jalan (melompat) ke laut, lalu Allah menahan aliran air pada tempat lewatnya ikan itu sehingga menjadi seperti jalan (menyerupai jembatan). Dihidupkannya ikan itu dan ditahannya aliran air tersebut hingga menjadi sebuah jalan, membuat takjub Musa dan pembantunya (setelah mereka menyadarinya suatu saat nanti.) Lalu mereka melanjutkan sisa perjalanan mereka sehari semalam. Tatkala pagi menjelang, Musa berkata kepada pembantunya, “Bawakanlah makanan kita, sungguh kita capek dengan perjalanan ini. Musa -‘alaihis-salām- tidak merasakan lelah hingga dia melewati tempat yang diperintahkan kepadanya, maka ia pun merasa lapar dan letih. Lalu pembantunya berkata kepadanya, “Sesungguhnya ketika kita berada di batu besar tadi aku telah kehilangan ikan itu.” Lantas Musa berkata, “Itulah tempat yang kita cari karena itu adalah tanda keberadaan Khiḍir. Lalu keduanya kembali ke jalan yang mereka datangi sebelumnya sambil mengikuti jejak mereka berdua. Tatkala mereka tiba di batu besar itu tiba-tiba terdapat seorang laki-laki yang menyelimuti dirinya dengan pakaian/kain, lalu Musa mengucapkan salam kepadanya, maka Khiḍir berkata, “Bagaimana bisa ada salam di negerimu?” yakni apakah di negeriku ini ada ucapan salam? Ini adalah kata tanya yang bermakna ‘istib’ād (penafian) yang menunjukkan bahwa penduduk negeri tersebut belum ada pada saat itu yang beragama Islam. Lalu Musa berkata kepada Khiḍir, “Saya adalah Musa.” Maka Khiḍir berkata kepadanya, “Engkau Musa yang diutus kepada Bani Israil?” Musa pun menjawab, “Iya.” Ini menunjukkan bahwa para Nabi dan orang-orang selain mereka tidak mengetahui perkara gaib kecuali apa yang Allah -Ta’ālā- ajarkan kepada mereka, karena seandainya Khiḍir mengetahui setiap perkara gaib pasti dia akan mengenal Musa sebelum menanyakannya. Inilah syāhid (poin pendalilan) yang karenanya Ibnu Abbas menyebutkan hadis ini. Kemudian Musa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang telah diajarkan Allah kepadamu?” Hal ini tentunya tidak menafikan derajat kenabiannya dan keadaannya sebagai pembawa syariat untuk belajar dari selain dirinya selagi itu bukan merupakan syarat (pokok ajaran) di dalam bab-bab agama karena sesungguhnya Rasul seyogyanya lebih berilmu daripada orang yang ia diutus kepadanya dalam perkara risalahnya berupa pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, bukan dalam seluruh perkara secara mutlak. Lalu Khiḍir menjawab dengan ucapannya, “Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku karena sebenarnya aku akan melakukan perkara-perkara yang tampaknya kemungkaran namun hakekatnya engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu.” Kemudian ia berkata, “Wahai Musa, sesungguhnya aku memiliki ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadaku yang engkau tidak mengetahuinya, demikian pula engkau memiliki ilmu yang Dia ajarkan kepadamu dan aku tidak mengetahuinya.” Maka Musa berkata kepadanya, “Engkau akan mendapatiku -insya Allah- sebagai orang yang sabar bersamamu, tidak akan mengingkarimu dan aku tidak akan pernah mendurhakai perintahmu.” Keduanya pun pergi berjalan di pinggir laut, sedang mereka berdua tidak memiliki perahu, lalu ada sebuah perahu yang melintasi mereka berdua, maka keduanya berbicara dengan para pemilik perahu itu agar mengangkut mereka berdua dan ternyata para pemilik perahu itu tahu bahwa yang meminta itu adalah Khiḍir, maka mereka pun mengangkut keduanya tanpa upah. Tiba-tiba ada seekor burung pipit lalu hinggap di tepi perahu kemudian mematuk sekali atau dua kali patukan ke laut. Lalu Khiḍir berkata, “Wahai Musa, ilmuku dan ilmumu yang berasal dari Allah tidak lain seperti patukan burung ini ke laut (tidak ada apa-apanya di hadapan ilmu Allah). Lalu Khiḍir mendatangi papan di antara papan-papan perahu kemudian mencabutnya dengan kapak hingga perahu itu berlubang dan air pun masuk. Lantas Musa -‘alaihis-salām- berkata kepadanya, “Mereka adalah orang-orang yang telah membawa kita tanpa meminta upah, namun engkau malah melubangi perahunya agar penumpangnya tenggelam!” Khiḍir berkata memperingatkannya dengan apa yang ia katakan sebelumnya, “Bukankah aku telah mengatakan bahwa engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku?” Musa berkata, “Janganlah engkau hukum aku karena kelupaanku dan janganlah engkau bebankan padaku perkara yang sulit, karena hal tersebut mempersulitku untuk mengikutimu!” Untuk masalah yang pertama ini, sebabnya adalah karena Musa -‘alaihis-salām- lupa.

Selanjutnya keduanya pun melanjutkan perjalanan setelah keluar dari perahu itu, tiba-tiba ada seorang anak yang sedang bermain dengan anak-anak yang lain, kemudian Khiḍir memegang kepala anak itu, lalu ia menarik kepalanya dengan tangannya (mencekiknya). Maka Musa pun berkata kepada Khiḍir -‘alaihis-salām-, “Apakah engkau membunuh satu jiwa yang suci dari dosa-dosa, kita tidak pernah melihatnya melakukan satu dosa yang menyebabkan ia harus dibunuh atau ia membunuh orang lain sehingga ia pun harus dibunuh?!” Khiḍir berkata kepada Musa -‘alaihis-salām-, “Bukankah sudah kukatakan kepadamu sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku?” Pada lafal teguran kali ini ada tambahan kata “la-ka (kepadamu)” sebagai tambahan penegasan dalam teguran. Oleh karena itu Sufyan bin 'Uyainah yaitu salah satu perawi hadis ini berkata, “Ini (teguran kedua Khiḍir) lebih tegas.” Ia berdalil dengan tambahan kata "la-ka" pada lafal teguran kedua ini. Keduanya pun melanjutkan perjalanan sehingga ketika mereka sampai ke penduduk suatu kampung, keduanya meminta kepada mereka makanan, namun mereka menolak untuk menjamu keduanya, sehingga mereka tidak mendapatkan jamuan di kampung itu dan tidak pula mendapati tempat menginap. Lalu keduanya menemukan rumah yang hampir roboh di kampung tersebut, maka Khiḍir mengisyaratkan dengan tangannya lalu menegakkannya. Musa pun berkata kepada Khiḍir, “Sekiranya engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu sehingga bisa menjadi bekal buat perjalanan kita.” Maka Khiḍir berkata kepada Musa -‘alaihis-salām-, “Interupsi ketiga ini menjadi sebab perpisahan antara aku dan engkau.” Nabi -șallallāhu ‘alaihi wa sallam- lalu bersabda, “Semoga Allah merahmati Musa, sungguh kita benar-benar berkeinginan dan berharap seandainya ia bisa bersabar sehingga kita dapat menambah pengetahuan tentang ilmu dan hikmah yang terjadi di antara mereka berdua.”

Kategori : Akidah · Iman Kepada Para Rasul · Para Nabi dan Rasul Terdahulu -'alaihim as-salām-

بسم الله الرحمن الرحيم Sel 15 Jumadil Awal
الثلاثاء 15 جمادى الأولى
بدر Bulan Purnama Hari 16.5 / 29.5
Iluminasi 97%
Bulan baru dalam 13 hari
سبحان الله Maha Suci Allah

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

QS. Al-Ahzab: 56

Shalawat Nabi