Islam > Hadis > Akidah > Aku lebih berhak berbuat begitu daripada engkau, maafkanlah hamba-Ku ini!
Hadis sahihDaftar Isi :
Diperbarui pada 26 Oktober 2026 pukul 23.26
📖 2 menit bacaعن حذيفة -رضي الله عنه - قال: أُتَي الله تعالى بِعبْد من عِباده آتاه الله مالاً، فقال له: ماذا عَمِلْت في الدنيا؟ -قال: «ولَا يَكْتُمُونَ اللهَ حَدِيثًا»- قال: يا رَبِّ آتَيْتَنِي مَالَك، فكُنت أُبَايعُ الناس، وكان من خُلُقِي الجَوَاز، فكُنت أَتَيَسَّرُ على المُوسِرِ، وأنْظِر المُعْسِر. فقال الله تعالى : «أنا أحَقُّ بِذَا مِنك تَجَاوزُوا عن عَبْدِي» فقال عُقْبَة بن عَامر، وأبو مسعود الأنصاري رضي الله عنهما : هكذا سَمِعْنَاه من فِيِّ رسول الله صلى الله عليه وسلم .
Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa seorang hamba yang telah Allah berikan harta dibawa kepada Allah -Ta'ālā- pada hari kiamat, lantas Tuhannya bertanya kepadanya tentang harta tersebut, "Apa yang dilakukannya dengan harta itu?" Ḥużaifah berkata, "Dan mereka tidak dapat menyembunyikan satu perkataan pun dari Allah." Yakni, mereka tidak bisa menyembunyikan sesuatu pun dari Allah -Ta'ālā- pada hari kiamat. Hal ini sebagaimana firman Allah -Ta'ālā-, "pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan." Hamba tersebut berkata, "Wahai Tuhanku, Engkau telah memberikan harta-Mu, lalu aku berbisnis dengan orang lain," yakni, aku bertransaksi dengan mereka dalam jual-beli dan utang-piutang. Dan di antara akhlak yang aku miliki adalah memberi maaf." Selanjutnya ia menjelaskannya dengan ucapannya, "aku memberi kemudahan kepada orang yang berkelapangan," yakni, aku memberikan kemudahan kepadanya dan menerima darinya meskipun disertai sedikit kekurangan. " dan memberi tempo kepada orang yang kesulitan." Yakni, bersabar terhadap orang yang kesulitan. Aku tidak menuntutnya dan aku memberinya tempo. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Aku lebih berhak berbuat begitu daripada engkau," yakni, selama engkau memaafkan hamba-Ku dan berakhlak dengan akhlak-Ku, maka Kami lebih berhak memberi ampunan dan maaf daripada kamu." "maafkanlah hamba-Ku ini." Yakni, Allah memaafkannya dan mengampuni kesalahan-kesalahannya disebabkan maafnya, kelapangan dadanya, dan interaksinya yang baik kepada hamba-hamba Allah -Ta'ālā-. Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula). 'Uqbah bin 'Āmir dan Abu Mas'ūd Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, "Demikianlah kami mendengarnya dari bibir Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Artinya bahwa keduanya mendengar apa yang diceritakan oleh Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- itu langsung dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sebagaimana yang dituturkan oleh Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- tanpa ada tambahan atau pengurangan.
Kategori : Akidah · Iman kepada Allah -'Azza wa Jalla- · Tauhid Al-Asmā` wa Aṣ-Ṣifāt