Putra Abi Ṭalḥah -raḍiyallāhu 'anhu- sedang menderita sakit. Lantas Abu Ṭalḥah keluar, lal…

Islam > Hadis > Fikih dan usul fikih > Putra Abi Ṭalḥah -raḍiyallāhu 'anhu- sedang menderita sakit. Lantas Abu Ṭalḥah keluar, lal…

Hadits diriwayatkan oleh Muttafaq 'alaih

Hadis sahih

Diperbarui pada 26 Oktober 2026 pukul 23.26

📖 5 menit baca

Teks hadits: Putra Abi Ṭalḥah -raḍiyallāhu 'anhu- sedang menderita s…

عن أنس رضي الله عنه قال: كان ابن لأبي طلحة رضي الله عنه يشتكي، فخرج أبو طلحة، فَقُبِضَ الصَّبي، فلما رجع أبو طلحة، قال: ما فعل ابني؟ قالت أم سليم وهي أم الصَّبي: هو أسْكَن ما كان، فَقَرَّبَت إليه العشاء فتَعَشَّى، ثم أصاب منها، فلما فَرَغ،َ قالت: وارُوا الصَّبي فلما أصبح أبو طلحة أتى رسول الله صلى الله عليه وسلم فأخبره، فقال:«أعَرَّسْتُمُ اللَّيلَةَ؟» قال: نعم، قال: «اللَّهُمَّ بارِك لهما»، فولدت غلامًا، فقال لي أبو طلحة: احْمِلْهُ حتى تأتي به النبي صلى الله عليه وسلم وبعث معه بتمرات، فقال: «أمَعَه شيء؟» قال: نعم، تَمَرات، فأخذها النبي صلى الله عليه وسلم فمَضَغَها، ثم أخذها من فِيه فجعلها في فِيِّ الصَّبي، ثم حَنَّكَهُ وسماه عبد الله.
وفي رواية: قال ابن عيينة: فقال رجل من الأنصار: فرأيت تِسْعَة أولاد كلهم قد قرؤوا القرآن، يعني: من أولاد عبد الله المولود.
وفي رواية: مات ابن لأبي طلحة من أم سليم، فقالت لأهلها: لا تُحَدِّثوا أبا طلحة بابْنِهِ حتى أكون أنا أُحدِّثه، فجاء فَقَرَّبَتْ إليه عشاء فأكَل وشرب، ثم تَصَنَّعَتْ له أحْسَن ما كانت تصنع قبل ذلك، فَوَقَع بها. فلمَّا أن رأت أنه قد شَبِع وأصاب منها، قالت: يا أبا طلحة، أرأيت لو أن قومًا أعَارُوا عَارِيَتَهُم أهل بيت فطَلَبوا عَارِيَتَهُم، ألهم أن يَمْنَعُوهُم؟ قال: لا، فقالت: فَاحْتَسِبْ ابنك، قال: فغضِب، ثم قال: تَرَكْتِني حتى إذا تَلطَّخْتُ، ثم أخبرتني بابني؟! فانطلق حتى أتى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فأخبره بما كان فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «بارك الله في لَيْلَتِكُمَا»، قال: فَحَمَلَتْ. قال: وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم في سَفَر وهي معه، وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أتى المدينة من سَفر لا يَطْرُقُهَا طُرُوقًا فَدَنَوا من المدينة، فضَرَبَها المَخَاض، فَاحْتَبَسَ عليها أبو طلحة، وانطلق رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: يقول أبو طلحة: إنك لَتَعْلَمُ يَا رَبِّ أنه يُعْجِبُنِي أن أخرج مع رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا خرج وأدخل معه إذا دخل وقد احْتَبَسْتُ بما ترى، تقول أم سليم: يا أبا طلحة، ما أجِدُ الذي كنت أجِدُ، انطلق، فانطلقنا وضربها المَخَاض حين قَدِما، فولدت غلامًا. فقالت لي أمي: يا أنس، لا يُرْضِعْهُ أحدٌ حتى تَغْدُو به على رسول الله صلى الله عليه وسلم فلمَّا أصبح احتَمَلْتُه فانْطَلَقتُ به إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم ... وذكر تمام الحديث.

Penjelasan hadits: Putra Abi Ṭalḥah -raḍiyallāhu 'anhu- sedang menderita s…

Hadis Anas bin Mālik berkenaan dengan Abu Ṭalḥah bahwa dia mempunyai seorang anak yang mengeluh. Artinya sedang menderita sakit. Abu Ṭalḥah adalah suami ibu Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhum-. Ia menikahi ibunya setelah (pisah) dari bapak Anas. Abu Ṭalḥah pergi untuk satu keperluannya lalu anak itu meninggal dunia. Saat pulang, Abu Ṭalḥah bertanya kepada Ummu Sulaim mengenai anak tersebut, "Bagaimana keadaan putraku?" Ummu Sulaim menjawab, "Dia sangat tenang." Dia berbicara benar bahwa anaknya sangat tenang karena dia sudah meninggal dunia. Sementara Abu Ṭalḥah -raḍiyallāhu 'anhu- memahami bahwa anaknya sudah sembuh dan sekarang sehat. Lantas Ummu Sulaim menghidangkan makan malam, Abu Ṭalḥah pun menyantap makan malam karena (merasa) anaknya sudah sembuh. Setelah itu dia menggauli istrinya. Setelah selesai berhubungan badan, Ummu Sulaim berkata, "Orang-orang sudah menimbun anak itu." Yakni, orang-orang sudah mengubur anak tersebut karena dia sudah wafat, -berdasarkan riwayat pertama-. Ketika pagi tiba, Abu Ṭalḥah -raḍiyallāhu 'anhu- mengubur anak tersebut dan memberitahukan hal tersebut kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau bertanya, "Apakah tadi malam kalian berhubungan?" Abu Ṭalḥah menjawab, "Ya." Lantas beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendoakan keberkahan untuk keduanya. Selanjutnya Ummu Sulaim -raḍiyallāhu 'anha- melahirkan seorang anak yang diberkahi. Anas berkata, "Abu Ṭalḥah berkata kepadaku, "Bawalah anak ini sampai engkau bertemu dengan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-," ia juga mengirimkan beberapa butir kurma bersamanya agar beliau melakukan tahnik padanya supaya ludah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjadi makanan yang pertama kali masuk ke dalam perut si anak sehingga mendapatkan keberkahan. Setelah Anas sampai ke hadapan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bertanya, "Apakah anak ini membawa sesuatu?" Yakni, yang dapat dijadikan untuk tahnik. Anas -raḍiyallāhu 'anhu- menjawab bahwa dia membawa beberapa butir kurma. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengambil kurma itu lalu mengunyahnya supaya bercampur dengan air liurnya yang mulia dan anak tersebut mampu menelannya. Dengan demikian makanan yang pertama kali masuk ke dalam perutnya adalah kunyahan yang bercampur dengan air liur al-Mushthafa -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sehingga anak itu bahagia dan memperoleh keberkahan. Selanjutnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengeluarkan kurma yang sudah dikunyah dari mulutnya lalu meletakkannya di mulut anak bayi itu kemudian memijitnya dengan mentahniknya serta memberinya nama Abdullah. Anak bayi ini selanjutnya mempunyai sembilan orang anak yang seluruhnya membaca (hafal) Alquran berkat doa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

Adapun menurut riwayat Muslim, "Ummu Sulaim berkata kepada keluarganya, "Janganlah kalian bercerita kepada Abu Ṭalḥah mengenai anaknya sampai aku yang pertama kali memberitahukan berita tersebut kepadanya." Ketika Abu Ṭalḥah datang, Ummu Sulaim menyuguhkan makan malam kepadanya lalu ia pun makan dan minum. Selanjutnya Ummu Sulaim berhias, memakai minyak wangi, dan berpura-pura hingga Abu Ṭalḥah menggaulinya. Setelah selesai berhubungan badan, Ummu Sulaim memberikan perumpamaan kepada Abu Ṭalḥah dengan barang pinjaman yang dikembalikan lagi kepada pemiliknya." Ia berkata kepada Abu Ṭalḥah, "Wahai Abu Ṭalḥah, bagaimana pendapatmu sekiranya ada kaum yang meminjamkan barang pinjaman kepada keluarganya lalu mereka meminta kembali barang pinjamannya, apakah boleh mereka menolaknya?" Abu Ṭalḥah menjawab, "Tidak." Istrinya berkata, "Mohonlah pahala atas putramu." Abu Ṭalḥah - raḍiyallāhu 'anhu- marah mendengar perkataan istrinya lalu berkata, "Engkau membiarkanku hingga aku melakukan jimak lalu engkau memberitahuku mengenai putraku?" Lantas Abu Ṭalḥah berangkat menuju Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk mengadukan istrinya dan apa yang telah dilakukannya. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendoakan bagi keduanya dengan sesuatu yang manfaatnya indah akan kembali kepada keduanya, "Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua." Yakni, apa yang telah kalian berdua lakukan di malam hari. Mudah-mudahan Allah menjadikannya hasil yang baik dan buah yang indah. Selanjutnya istri Abu Ṭalḥah -raḍiyallāhu 'anhā- hamil, dan ia bersama suaminya sedang bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam suatu perjalanan. Ketika mereka hendak memasuki Madinah, istri Abu Ṭalḥah merasakan sakit karena akan melahirkan (kontraksi). Di antara kebiasaan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak masuk Madinah sampai beliau mengirim utusan untuk memberitahu penduduk Madinah mengenai kedatangan kafilah. Ternyata Abu Ṭalḥah -raḍiyallāhu 'anhu- tertahan tidak bisa masuk Madinah karena sibuk mengurusi istrinya. Sementara itu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berangkat.

Lantas Abu Ṭalḥah berdoa kepada Rabbnya, "Wahai Rabbku, Engkau tahu bahwa aku sangat suka untuk keluar bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila beliau keluar dan masuk bersamanya apabila beliau masuk. Sedangkan (sekarang) aku tertahan sebagaimana Engkau lihat." Ummu Sulaim -raḍiyallāhu 'anha- berkata kepada Abu Ṭalḥah, "Wahai Abu Ṭalḥah, aku tidak merasakan apa yang pernah aku rasakan." Yakni, aku tidak merasakan sakit melahirkan seperti yang pernah aku alami sebelumnya." Setelah itu Ummu Sulaim berkata kepadanya, "Pergilah."

Ketika kafilah tiba di Madinah, Ummu Sulaim mengalami kontraksi lalu lahirlah seorang anak laki-laki. Selanjutnya ia menyuruh Anas - raḍiyallāhu 'anhu- agar membawa anak itu kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan tidak boleh ada seorang pun wanita yang menyusuinya agar makanan pertama yang masuk ke dalam perutnya adalah air liur Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sehingga mendatangkan kebaikan di dunia dan akhirat baginya. Dampak hal itu terlihat pada anak ini dengan memperoleh banyak putra yang saleh, bertakwa, dan beruntung.

Sebagai penutup penjelasan ini bahwa tabaruk dengan sesuatu yang terpisah dari tubuh merupakan salah satu kekhususan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tanpa ada seorang pun dari umat ini yang menyertainya.

Bukti paling besar untuk masalah ini adalah bahwa para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- yang menyaksikan turunnya Alquran dan memahami hakikat agama tidak mencari keberkahan pada para khulafaurrasyidin, dan tidak juga kepada sepuluh sahabat selain mereka.

Kategori : Fikih Ibadah · Fikih Keluarga · Jenazah · Hukum-hukum Seputar Wanita · Fikih dan Uṣūl Fikih · Takziyah · Relasi Antara Laki-laki dan Wanita

بسم الله الرحمن الرحيم Sel 15 Jumadil Awal
الثلاثاء 15 جمادى الأولى
بدر Bulan Purnama Hari 16.5 / 29.5
Iluminasi 96%
Bulan baru dalam 13 hari
سبحان الله Maha Suci Allah

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

QS. Al-Ahzab: 56

Shalawat Nabi