Islam > Hadis > Sejarah dan tarikh > Sesungguhnya orang ini menghunus pedangku untuk mencelakaiku saat aku tidur, lalu aku bang…
Hadis sahihDiperbarui pada 26 Oktober 2026 pukul 23.26
📖 2 menit bacaعن جابر رضي الله عنه : أنه غزا مع النبي صلى الله عليه وسلم قِبَل نَجْد، فلما قَفل رسول الله صلى الله عليه وسلم قفل معهم، فأدركتهم القَائِلَةُ في وَادٍ كثير العِضَاه، فنزل رسول الله صلى الله عليه وسلم وتفرق الناس يَسْتَظِلُّونَ بالشجر، ونَزل رسول الله صلى الله عليه وسلم تحت سَمُرَة فعلق بها سيفه وَنِمْنَا نومةً، فإذا رسول الله صلى الله عليه وسلم يدْعونا وإذا عنده أعرابي، فقال: «إن هذا اخْتَرَطَ عليَّ سَيفِي وأنا نائم فاستيقظت وهو في يده صَلتًا، قال: من يَمْنَعُكَ مِنِّي؟ قلت: الله -ثلاثا-» ولم يُعاقِبْهُ وجلس، متفق عليه.
وفي رواية قال جابر: كنَّا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم بذَاتِ الرِّقَاعِ، فإذا أَتَيْنَا على شجرة ظَلِيلَةٍ تَرَكْنَاهَا لرسول الله صلى الله عليه وسلم فجاء رجُل من المشركين وسيف رسول الله صلى الله عليه وسلم معَلَّقٌ بالشجرة فَاخْتَرطَهُ، فقال: تَخَافُنِي؟ قال: «لا»، فقال: فمن يَمْنَعُكَ مِنِّي ؟ قال: «الله».
وفي رواية أبي بكر الإسماعيلي في «صحيحه»، قال: من يَمْنَعُكَ مِنِّي؟ قال: «الله»، قال: فسقط السيف مِن يَدهِ، فأخذ رسول الله - صلى الله عليه وسلم - السيف، فقال: « من يَمْنَعُكَ مِنِّي ؟»، فقال: كُنْ خَيرَ آخِذٍ، فقال: «تَشهد أن لا إله إلا الله وَأَنِّي رسول الله؟» قال: لا، ولكني أُعَاهِدُكَ أن لا أُقَاتِلَكَ، ولا أكُون مع قوم يُقَاتِلُونَكَ، فَخَلَّى سَبيلَهُ، فأتى أصحابه، فقال: جئتُكُمْ من عندِ خير الناسِ.
Dalam hadis ini, Jābir bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa ia berperang bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Di kalangan ahli sirah, peperangan ini dikenal dengan perang Ẓātu ar-Riqā'. Di tengah kepulangan mereka dari perang ini, tepat pada pertengahan hari, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berhenti di satu tempat yang banyak pohon berdurinya. Orang-orangpun berpencar meninggalkan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk mencari tempat bernaung dari terik matahari, sedangkan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- istirahat di bawah sebatang pohon yang rindang bernama Samurah. Beliau menggantungkan pedang di pohon tersebut, kemudian beliau dan para sahabatnya tidur. Selanjutnya salah seorang arab badui yang diperangi oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam perang ini menyelinap masuk di tengah mereka tanpa mereka sadari. Orang itu mengambil pedang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan sembunyi-sembunyi. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu terbangun. Beliau menceritakan, “Orang ini menghunus pedangku untuk mencelakaiku saat aku tidur, lalu aku bangun.” Orang arab badui itu mengambil pedang dan menggunakannya sebagai senjata untuk membunuh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Ia mengatakan, “Siapa yang bisa melindungimu dariku bila aku ingin membunuhmu?” Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, “Allah.” Ia mengulangi perkataan ini tiga kali (dan selalu mendapat jawaban sama). Maksudnya, Allah akan melindungi kami dari kejahatanmu. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengucapkan jawaban ini dengan penuh kepercayaan pada Allah, berserah diri pada-Nya dan yakin pada janji-Nya. Lantas pedang itu terjatuh dari tangan orang kafir itu, lalu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memungutnya, dan balik berkata padanya, “Siapa yang melindungimu dariku (apabila aku ingin membunuhmu)?”. Orang kafir itu menjawab, “Jadilah pembalas yang paling baik.” Maksudnya adalah jadilah orang yang memaafkan, mengampuni dan membalas keburukan dengan kebaikan. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkata padanya, “Engkau bersedia bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa aku utusan Allah?” Orang itu menjawab, “Tidak.” Akan tetapi ia berjanji pada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk tidak lagi memerangi beliau dan tidak bergabung dengan orang-orang yang memerangi beliau. Lantas Nabi -'alaihi aṣ-ṣalātu wa as-salām- melepaskannya. Orang itu kembali pada sahabat-sahabatnya, lalu berkata, “Aku datang pada kalian dari hadapan sebaik-baik manusia.” Faktanya memang seperti yang diucapkan orang kafir ini sebab Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah manusia paling baik akhlaknya. Hal ini cukup dibuktikan oleh rekomendasi Allah untuk beliau dalam firman-Nya, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
Kategori : Sirah Nabawiyah · Sifat-sifat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- · Sifat-sifat Akhlak · Sifat Pemaaf Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- · Sejarah dan Tarikh