Biografi de Abu Thalhah Al-Anshari
Abu Thalhah Al-Anshari bernama Zaid bin Suhail, atau lebih tepatnya Zaid bin Sahl bin Al-Aswad bin Haram, seorang Anshar dari Bani An-Najjar. Silsilahnya yang lengkap dicantumkan dalam biografi yang khusus membahas Zaid. Ia mengikuti baiat Aqabah, termasuk dua belas pemimpin (naqib), dan bertempur dalam Perang Badar. Ibnu Ishaq menyebutnya secara tegas di antara para pejuang Badar dengan nama Zaid bin Sahl bin Aswad bin Haram.
Setelah hijrahnya Rasulullah ﷺ bersama kaum muslimin ke Madinah, Nabi ﷺ mempersaudarakan Abu Thalhah dengan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Abu Thalhah kemudian menghadiri seluruh peperangan yang dilakukan bersama beliau. Ia termasuk para pemanah paling tersohor dan di antara para laki-laki yang keberaniannya paling masyhur. Peristiwanya di Uhud sangatlah termasyhur.
Pada hari itu, ia melindungi Rasulullah ﷺ dengan tubuhnya sendiri, melepaskan anak panah di hadapan beliau, dan mendada agar menjadi benteng baginya sambil berkata, "Kami bertempur untuk melindungimu, dan nyawaku lebih dahulu daripada nyawamu." Rasulullah ﷺ berkata, "Suara Abu Thalhah di dalam pasukan lebih baik daripada seratus laki-laki." Pada hari Hunain, Abu Thalhah membunuh 20 lawan dan mengambil perlengkapannya.
Anas meriwayatkan bahwa Abu Thalhah bercerita kepadanya, "Aku menengok Rasulullah ﷺ dan melihat pada wajahnya kegembiraan dan kesejukan yang belum pernah kulihat padanya dalam keadaan seperti itu. Aku berkata kepadanya, 'Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihatmu seperti ini.' Beliau menjawab, 'Apa yang bisa menghalanginya, wahai Abu Thalhah, sedangkan Jibril baru saja meninggalkanku setelah menyampaikan kepadaku kabar gembira dari Tuhanku? Ia mengabarkan bahwa Allah mengutusnya kepadaku untuk memberitahuku bahwa setiap anggota umatku yang bershalawat atasku akan mendapatkan balasan 10 rahmat dari Allah dan malaikat-malaikat-Nya.'
Beberapa guru lain juga meriwayatkan kisah Anas ini: Abu Al-Qasim Ibnu Shadaqah bin Ali Al-Faqih meriwayatkannya dari Abu Al-Qasim Ibnu As-Samarqandi, lalu dari Ali bin Ahmad bin Muhammad Al-Bishri dan Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Al-Bazzaz, dari Al-Mukhlis, Abdullah bin Muhammad Al-Baghawi, Shalih bin Muhammad, Shalih Al-Marri, dan Tsabit. Sanad ini berujung pada penengokan Abu Thalhah kepada Nabi ﷺ dan kabar gembira dari Jibril. Teks tersebut dengan demikian menempatkan berdampingan keberaniannya di medan perang dan perhatiannya terhadap tanda-tanda kegembiraan pada wajah Rasulullah ﷺ.