Découvrez la signification du terme Al-ḥkma (حكمة) dans le vocabulaire islamique.
Daftar isi :
Diperbarui pada 11 April 2026 pukul 01.05
📖 3 menit bacaSuatu ilmu yang di dalamnya diteliti hakikat-hakikat perkara sebagaimana adanya dalam keberadaan, menurut ukuran kemampuan manusia; maka ia adalah ilmu nazhari (spekulatif) bukan ilmu 'amali (praktis). Hikmah juga berarti: keadaan daya akal dan daya kognitif dalam ukuran yang seimbang, antara kecerdasan bawaan (gharizah) yang merupakan kelebihannya, dan kebodohan (baladah) yang merupakan kekurangannya.
Ia dijumpai dalam tiga makna: yang pertama: menjadikan (al-ijad); yang kedua: ilmu; yang ketiga: karya-karya yang sempurna pelaksanaannya, seperti matahari dan bulan dan sejenisnya. Ibnu 'Abbas (semoga Allah ridha kepada keduanya) mentakwilkan hikmah dalam Al-Qur'an sebagai mempelajari yang halal dan yang haram. Dikatakan: hikmah, secara bahasa, adalah ilmu yang disertai amal.
Dikatakan: dari hikmah diambil apa yang benar dalam hakikat perkara itu sendiri, menurut ukuran kemampuan manusia. Dikatakan: setiap perkataan yang sesuai dengan kebenaran adalah hikmah. Dikatakan: hikmah adalah perkataan yang baik pengucapannya, terjaga dari hashw (hiasan kosong).
Secara bahasa: kecerdasan (dana'i). Para pemazhab disiplin rasional berselisih tentang takrifnya. Pendapat yang masyhur adalah bahwa hikmah adalah ilmu tentang keadaan-keadaan hakikat-hakikat yang ada sebagaimana adanya dalam hakikat perkara itu sendiri, menurut ukuran kemampuan manusia.
Yang dimaksud «hakikat-hakikat yang ada»: yang ada yang nyata dan eksternal. Yang dimaksud «manusia»: orang yang berada di tengah-tengah manusia, tidak pada derajat tertinggi dan tidak pada derajat terendah. Yang dimaksud «sebagaimana adanya»: sesuai cara keadaan-keadaan hakikat itu berdiri, yaitu wajib, mumkin, mustahil, tahayyuz (menempati ruang), jismiyah (kejasmanian) dan lainnya, di antaranya qidam (keabadian) dan huduts (kebaruan).
Dikatakan bahwa sebagian filsuf berpendapat dunia qadim (abadi) dan sebagian lainnya berpendapat ia huduts (bermula), dan keduanya «bijaksana»; padahal keduanya tidak mungkin sama-sama sesuai dengan hakikat perkara, hanya salah satunya yang sesuai; maka haruslah salah satu dari keduanya tidak bijaksana, sedangkan keduanya bijaksana. Jawabannya: yang dituju adalah ilmu tentang keadaan-keadaan hakikat-hakikat yang ada sebagaimana adanya dalam hakikat perkara, menurut pendapatnya, sebatas ukuran kemampuan manusia; dan objek takrif ini adalah yang-ada eksternal; maka mantiq keluar dari hikmah, karena ia meneliti keadaan-keadaan yang-ada mental, sebab di dalamnya dipelajari ma'qul kedua (tampak) yang tidak memiliki padanan apa pun di luar.
Keseimbangan daya akal (an-nathiqa).
Pada asalnya, ia adalah kesempurnaan amal dan perkataan, serta pelaksanaan keduanya dengan cermat.
﴿رَبَّنَا وَٱبْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًۭا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَـٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَـٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ﴾
Sourate البقرة : 129
﴿كَمَآ أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًۭا مِّنكُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْكُمْ ءَايَـٰتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱلْكِتَـٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُوا۟ تَعْلَمُونَ﴾
Sourate البقرة : 151
﴿وَإِذَا طَلَّقْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ سَرِّحُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍۢ ۚ وَلَا تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَارًۭا لِّتَعْتَدُوا۟ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُۥ ۚ وَلَا تَتَّخِذُوٓا۟ ءَايَـٰتِ ٱللَّهِ هُزُوًۭا ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمَآ أَنزَلَ عَلَيْكُم مِّنَ ٱلْكِتَـٰبِ وَٱلْحِكْمَةِ يَعِظُكُم بِهِۦ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌۭ﴾
Sourate البقرة : 231
﴿فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ ٱللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُۥدُ جَالُوتَ وَءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ٱلْمُلْكَ وَٱلْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُۥ مِمَّا يَشَآءُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍۢ لَّفَسَدَتِ ٱلْأَرْضُ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى ٱلْعَـٰلَمِينَ﴾
Sourate البقرة : 251
﴿يُؤْتِى ٱلْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ ٱلْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِىَ خَيْرًۭا كَثِيرًۭا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَـٰبِ﴾
Sourate البقرة : 269
﴿وَيُعَلِّمُهُ ٱلْكِتَـٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَٱلتَّوْرَىٰةَ وَٱلْإِنجِيلَ﴾
Sourate آل عمران : 48
Ce terme apparaît dans 19 versets du Coran.