Découvrez la signification du terme Al-mbtda (مبتدأ) dans le vocabulaire islamique.
Daftar isi :
Diperbarui pada 11 April 2026 pukul 01.05
📖 2 menit bacaIalah isim yang dibebaskan dari 'amil fi'iliah (atau 'amil lafaziah), yang menjadi tempat khabar, atau khabar yang berada setelah huruf istifham atau adat negasi yang mengangkat isim lahiriah, seperti: Zaidun qa'im (Zaid berdiri), Aqa'imaz-zaidan (Apakah kedua Zaid berdiri?), dan Ma qa'imaz-zaidan (Kedua Zaid tidak berdiri).
Ia terbagi menjadi dua kategori: bukan daruri, yang merupakan kaidah asal, dan daruri, yang menyelisihi kaidah asal. Adapun yang pertama, ialah isim yang tidak terdapat di dalamnya 'amil lafaziah kecuali yang zaid (berlebih), seperti: Zaidun qa'im (Zaid berdiri) dan Bihashbuka dirham (Satu dirham cukup bagimu). Adapun yang kedua, ialah khabar yang berada setelah adat negasi atau hamzah istifham yang mengangkat isim lahiriah, seperti: Ma qa'imaz-zaidan (Kedua Zaid tidak berdiri) dan Aqa'imaz-zaidan (Apakah kedua Zaid berdiri?).
Jika kategori ini menjadi daruri, itu karena lafaz seperti Ma qa'imaz-zaidan adalah perkataan sempurna yang sukunnya sah, sedangkan pengisbatan khabar kepada fa'ilnya tidak sempurna dan tidak sah az-zaidan menjadi mubtada' muakhkhar karena tidak cocoknya khabar yang diturunkan dalam hal ini. Para ahli nahwu maka terpaksa menetapkan bahwa khabar berkedudukan mubtada' meskipun ia khabar, atau bahwa fa'ilnya menjadi ganti khabar.
Isim yang terbebas dari semua keterkaitan dengan 'amil-'amil lafaziah, secara hakikat karena ia adalah isim yang ditujukan untuk menerima khabar, dan khabar yang bersandar pada salah satu dari kedua huruf istifham dan negasi, yang mengangkat isim lahiriah, atau penggantinya.