Biographie de Hamza ibn Abd al-Mouttalib

Accueil > Biographies des savants > Hamza ibn Abd al-Mouttalib

Diperbarui pada 07 Oktober 2026 pukul 08.56

Biographie complète de Hamza ibn Abd al-Mouttalib

ajalnya, dan beliaulah yang tentangnya Rasulullah, shallallahu 'alaihi wa sallam, bersabda : "Wahai Ummu Haritsah, anakmu telah mencapai surga Firdaus yang paling tinggi."

Dan Yazid bin al-Harits bin Qais al-Khazraji, yang ibunya adalah Fausyam, dan dikatakan tentangnya : beliaulah Fausyam.

Dan Rafi' bin al-Mu'alla az-Zuraqi, Sa'ad bin Khaitsamah al-Ausi, dan Mubasyysyir bin Abd al-Mundzir, saudara Abu Lubabah.

Dan 'Aqil bin al-Bukair bin Abd Yalail al-Kinani al-Laitsi, salah seorang dari empat bersaudara Badri.

Jumlah mereka : empat belas syuhada.

Dan yang terbunuh dari kaum musyrik :

Utbah bin Rabi'ah bin Abd Syams bin Abd Manaf, dan saudaranya Syaibah : usia keduanya seratus empat puluh empat tahun.

Dan Abu Jahal, Amr bin Hisyam bin al-Mughirah al-Makhzumi, dan Umayyah bin Khalaf al-Jumahi, dan putranya Ali.

Dan Uqbah bin Abi Mu'aith : beliau disembelih dengan tidak rela.

Dan Abu al-Bakhtari, al-Ash bin Hisyam al-Asadi : al-Ash adalah saudara Abu Jahal ; dan Hanzhalah bin Abi Sufyan, saudara Muawiyah ; dan Ubaid dan al-Ash, kedua putra Abi Uhaihah.

Dan al-Harits bin Amir an-Naufali, dan Tsu'amah, paman Jubair bin Mut'im.

Dan Harits bin Zam'ah bin al-Aswad, dan ayahnya, dan pamannya 'Aqil.

Dan Naufal bin Khuwailid al-Asadi, saudara Khadijah.

Dan an-Nadhr bin al-Harits : beliau dibunuh dengan tidak rela.

Dan Umair bin Utsman, paman Thalhah bin Ubaidillah.

Dan Mas'ud al-Makhzumi, saudara Umm Salamah.

Dan Abu Qais, saudara Khalid bin al-Walid ; dan Qais bin al-'Adi bin al-Mughirah al-Makhzumi.

Dan Nubaits dan Munabbih, kedua putra al-Hajjaj bin Amir asy-Sahmi ; dan kedua putra Munabbih : Haritsah dan al-Ash.

No. 15 : Hamzah bin Abd al-Muthalib bin Hasyim bin Abd Manaf al-Qurasyi, bin Qushai bin Kilab [...]

Imam, pahlawan, singa yang buas, singa Allah, Abu Umarah dan Abu Ya'la, al-Qurasyi, al-Hasyimi, penduduk Makkah kemudian penduduk Madinah, orang Badri, syuhada.

Paman Rasulullah, shallallahu 'alaihi wa sallam, dan saudaranya dari perawanan (sesusuannya).

Islamnya Hamzah bin Abdul Muthalib

Ibnu Ishaq berkata : ketika Hamzah memeluk islam, Quraisy mengetahui bahwa Rasulullah, shallallahu 'alaihi wa sallam, telah menjadi terlindungi, dan bahwa Hamzah akan melindunginya : mereka menahan sebagian dari apa yang mereka perlakukan kepadanya.

Abu Ishaq berkata : dari Haritsah bin Mudharrib, dari Ali :

Rasulullah, shallallahu 'alaihi wa sallam, bersabda kepadaku : "Panggilah Hamzah."

Aku berkata : "Siapa penunggang unta merah itu ?"

Hamzah berkata : "Itu Utbah bin Rabi'ah." Maka Hamzah berhadapan dengan Utbah dan membunuhnya.

Dan Usamah bin Zaid meriwayatkan, dari Nafi', dari Ibnu Umar, yang berkata :

Rasulullah, shallallahu 'alaihi wa sallam, mendengar para wanita Anshar menangisi orang-orang mereka yang terbunuh ; beliau bersabda : "Tetapi Hamzah tidak punya peratap !"

Kami datang, dan kami meratapi Hamzah di hadapannya, hingga beliau bersabda : "Usirlah mereka : jangan biarkan mereka meratapi orang mati mana pun setelah hari ini."

Dan dalam Mustadrak al-Hakim :

Dari Jabir, secara mauquf : "Pemimpin para syuhada : Hamzah, dan seorang lelaki yang bangkit di hadapan imam yang zalim : ia memerintahkannya kebaikan dan melarangnya keburukan, lalu ia membunuhnya."

Aku berkata : sanadnya lemah.

Adz-Dzaghuri : Ahmad bin Sayyar meriwayatkan kepada kami ; Rafi' bin Asyras meriwayatkan ; Khulaid ash-Shaffar meriwayatkan ; dari Ibrahim ash-Sha'igh, dari Atha, dari Jabir :

Dari Nabi, shallallahu 'alaihi wa sallam, yang bersabda : "Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abd al-Muthalib."

Ini gharib.

Usamah bin Zaid : dari Nafi', dari Ibnu Umar, yang berkata :

Rasulullah, shallallahu 'alaihi wa sallam, pulang pada hari Uhud, dan mendengar para wanita Bani Abd al-Asyhal menangisi orang-orang mereka yang terbunuh.

Beliau bersabda : "Tetapi Hamzah tidak punya peratap !"

Kami datangkan para wanita Anshar, yang meratapi Hamzah di hadapannya ; beliau tertidur, dan terbangun ketika mereka masih meratap.

Beliau bersabda : "Aduh celakalah mereka ! Mereka masih meratap hingga saat ini : usirlah mereka, biarkan mereka pulang, dan jangan biarkan mereka meratapi orang mati mana pun setelah hari ini."

Wafatnya Hamzah bin Abdul Muthalib : kisah Wahsyi

Ibnu Ishaq : Abdullah bin al-Fadhl bin al-Abbas bin Rabi'ah menceritakan kepadaku, dari Sulaiman bin Yasar, dari Ja'far bin Amr bin Umayyah adz-Dhamri, yang berkata :

Aku berangkat bersama Ubaidillah bin Adi bin al-Khairar, pada masa Muawiyah, berperang ; kami melewati Homs, tempat berada Wahsyi.

Ibnu Adi berkata : "Maukah kita bertanya kepada Wahsyi bagaimana ia membunuh Hamzah ?"

Kami pergi mencarinya, dan kami menanyainya ; dikatakan kepada kami : "Kalian akan menemukannya di ruang tamu rumahnya, di atas sebuah tikar ; ia lelaki yang telah dikuasai oleh khamr ; jika kalian mendapatinya dalam keadaan sadar, kalian akan mendapati seorang lelaki Arab."

Kami sampai kepadanya : ternyata seorang lelaki hitam yang sangat tua, seperti kulit-kulit penggenang air, di atas sebuah tikar, dan ia berteriak ; kami memberi salam kepadanya.

Ia mengangkat kepalanya kepada Ubaidillah bin Adi dan berkata : "Anak Adi ? Demi Allah, engkau anak al-Khairar."

Ia berkata : "Ya."

Ia berkata : "Demi Allah, aku tidak melihatmu sejak aku menyerahkan ibumu kepadamu, perempuan Sa'diyah yang menyusuimu, di Dzu Thuwa, ketika ia berada di atas tunggangannya : kedua kakimu tampak bagiku."

Kami berkata : "Kami datang agar engkau menceritakan kepada kami bagaimana engkau membunuh Hamzah."

Ia berkata : "Akan kuceritakan kepadamu apa yang kuceritakan kepada Rasulullah, shallallahu 'alaihi wa sallam :

aku adalah hamba Jubair bin Mut'im ; pamannya Tsu'amah bin Adi terbunuh pada hari Badar.

Ia berkata kepadaku : jika engkau membunuh Hamzah, engkau merdeka.

Aku seorang pelontar lembing yang tidak pernah gagal sedikit pun ; maka aku berangkat bersama penduduk ; ketika kedua pasukan bertemu, aku mengambil lembingku, keluar mencari Hamzah, hingga melihatnya di tengah manusia, seperti unta yang diselap : ia menebar manusia dengan pedangnya, dengan tebasan yang tidak menyisakan apa pun ; demi Allah, aku sudah mengarahkan diri kepadanya, ketika Shiba' bin Abd al-Uzza al-Khuza'i maju di hadapanku kepadanya.

Ketika Hamzah melihatnya, beliau bersabda : "Majulah, wahai putra pemotong ginjal !"

Kemudian Hamzah memukulnya : demi Allah, seakan-akan beliau tidak salah sasaran kepalanya : aku tidak pernah melihat sesuatu jatuh lebih cepat daripada kepalanya.

Aku mengangkat lembingku sedikit ; ketika ia nyaman bagiku, aku melemparkannya kepadanya : lembing itu menusuk ke pahanya, hingga keluar di antara kedua kakinya ; ia jatuh, hendak bangkit, dan dikalahkan ; aku membiarkannya dengan lembing itu ; ketika ia mati, aku mendekatinya, mengambil kembali lembingku, lalu kembali ke perkemahan dan berdiri di sana : aku tidak memiliki urusan lain kecuali dirinya.

Ketika Rasulullah, shallallahu 'alaihi wa sallam, menaklukkan Makkah, aku lari ke Tha'if ; ketika delegasi Tha'if berangkat untuk memeluk islam, bumi ini terasa sempit bagiku meski luasnya ; aku berkata : pergilah ke Syam, atau Yaman, atau negeri lain ; dan demi Allah, aku berada di tengah kegelisahan itu, ketika seorang lelaki berkata :

"Demi Allah, Muhammad tidak membunuh siapa pun yang telah masuk ke dalam agamanya." Aku keluar, hingga sampai ke Madinah di sisi Rasulullah, shallallahu 'alaihi wa sallam ; beliau bersabda : "Wahsyi ?"

Aku berkata : "Ya."

Beliau bersabda : "Duduklah, dan ceritakan kepadaku bagaimana engkau membunuh Hamzah."

Aku menceritakannya kepadanya seperti aku bercerita kepadamu.

Beliau bersabda : "Aduh celakamu : tutuplah wajahmu, dan jangan tunjukkan lagi wajahmu kepadaku."

Aku menghindar dari Rasulullah, shallallahu 'alaihi wa sallam, di mana pun beliau berada, hingga wafatnya.

Ketika kaum muslimin keluar menuju Musailamah, aku keluar bersama mereka dengan lembing yang dengannya aku membunuh Hamzah ; ketika kedua pasukan bertemu, aku memandangi Musailamah, pedang di tangannya : demi Allah, aku tidak mengenalnya ; dan ternyata seorang lelaki Anshar mengarahkan senjatanya dari sisi lain : kami berdua sama-sama mengarahkan diri kepadanya.

Ketika ia terjangkau bagiku, aku melemparkan lembingku kepadanya : ia menusuk ke dalam tubuhnya ; dan orang Anshar itu melesat kepadanya dan memukulnya dengan pedang : Rabbmu lebih tahu mana dari kami berdua yang membunuhnya.

Jika akulah yang membunuhnya, maka aku telah membunuh sebaik-baik manusia setelah Rasulullah, shallallahu 'alaihi wa sallam, dan membunuh seburuk-buruk manusia.

Dan dalam riwayat yang sama : dari Sulaiman bin Yasar, dari Abdullah bin Umar, yang berkata :

Aku mendengar seorang lelaki berkata : "Budak hitam itulah yang membunuhnya", maksudnya Musailamah.

Usamah bin Zaid : dari az-Zuhri, dari Anas, yang berkata :

Pada hari Uhud, Rasulullah, shallallahu 'alaihi wa sallam, berhenti di hadapan Hamzah, yang telah dimutilasi dan didinga.

Beliau bersabda : "Seandainya tidak karena Safiyyah akan sedih karenanya, niscaya aku biarkan hingga Allah membangkitkannya dari perut-perut hewan buas dan burung-burung."

Beliau dimakamkan dengan sehelai gamis : jika kepalanya ditutupi, kakinya tampak, dan jika kakinya ditutupi, kepalanya tampak ; dan beliau tidak shalat atas satu pun dari para syuhada.

Beliau bersabda : "Aku saksi kalian."

Dan beliau mengumpulkan yang tiga orang dalam satu kubur, dan yang dua orang, dan bertanya : mana dari keduanya yang lebih banyak hafalan Alquran-nya ? Dan beliau meletakkannya di bagian depan dalam liang lahat.

Beliau memakamkan yang dua orang dan yang tiga orang dalam satu kain.

Ibnu 'Aun : dari Umair bin Ishaq, dari Sa'ad bin Abi Waqqash, yang berkata :

Hamzah bertempur, pada hari Uhud, di depan Rasulullah, shallallahu 'alaihi wa sallam, dengan dua pedang, sambil berkata : "Aku singa Allah."

Yunus bin Bukair meriwayatkannya, dari Ibnu 'Aun, dari Umair, secara mursal, dan menambahkan :

Beliau tersandung, jatuh terlentang ; baju besinya terbuka dari perutnya ; budak Habasyah itu menembusnya dengan satu lembing, yang membukanya.

Abd al-Aziz bin al-Majysyun : dari Abdullah bin al-Fadhl, dari Sulaiman bin Yasar, dari Ja'far bin Amr adz-Dhamri, yang berkata :

Aku berangkat bersama Ibnu al-Khairar menuju Syam ; kami menanyai Wahsyi ; dikatakan : "Itu ia di bawah naungan istananya, seperti sebuah haram (tempat suci)."

Kami datang, memberi salam kepadanya, dan berdiri sebentar ; Ibnu al-Khairar menutupi wajahnya dengan serbannya : Wahsyi hanya melihat kedua matanya dan kedua kakinya.

Ia berkata : "Wahai Wahsyi, apakah engkau mengenalku ?"

Wahsyi berkata : "Tidak, demi Allah ; kecuali aku tahu bahwa Adi bin al-Khairar menikahi seorang wanita bernama Umm Qithal binti Abi al-Ais, yang melahirkan seorang anak lelaki di Makkah ; dicarikan seorang ibu susuan, aku menggendongnya bersama ibunya dan menyerahkannya kepadanya : seakan-akan aku melihat kedua kakimu."

Ia berkata : Ubaidillah membuka wajahnya, lalu berkata : "Maukah engkau memberi tahu kami tentang wafatnya Hamzah ?"

Wahsyi berkata : "Ya : Tsu'amah bin Adi bin al-Khairar terbunuh di Badar ; tuanku Jubair berkata kepadaku :

jika engkau membunuh Hamzah untuk pamanku, engkau merdeka.

Ketika penduduk keluar ke 'Ainain, dan 'Ainain adalah sebuah gunung di bawah Uhud, antara gunung itu dan Uhud sebuah lembah : Shiba' berkata : adakah penantang ?

Hamzah berkata : "Wahai putra pemotong ginjal ! Apakah engkau menantang Allah dan rasul-Nya ?"

Kemudian beliau melesat kepadanya, yang bergegas pergi seperti yang pergi kemarin.

Aku mengendap Hamzah di balik sebuah batu besar, hingga beliau melewati dekatku ; aku melemparkan lembing ke pahanya, hingga lembing itu keluar dari pinggulnya.

(Lanjut) hingga ia berkata : aku berada di Tha'if ; mereka mengutus utusan kepada Nabi, shallallahu 'alaihi wa sallam ; dan dikatakan : utusan tidak tergesa-gesa.

Aku berangkat bersama mereka ; ketika beliau melihatku, beliau bersabda : "Ini engkau Wahsyi ?"

Aku berkata : "Ya."

Beliau bersabda : "Yang membunuh Hamzah ?"

Aku berkata : "Ya : urusan yang sampai kepadamu demikianlah adanya."

Beliau bersabda : "Maukah engkau menutupi wajahmu dariku ?"

Ia berkata : aku pun menutupinya.

Ketika beliau wafat, dan Musailamah keluar, aku berkata : aku akan keluar menemuinya : mungkin aku membunuhnya dan Allah membalasku atas Hamzah.

Aku keluar bersama penduduk ; urusan mereka berjalan apa adanya ; dan ternyata seorang lelaki berdiri di tengah barisan pasukan, seperti unta yang diselap, rambutnya terangkat ; aku membidiknya dengan lembingku, meletakkannya di antara kedua dadanya hingga keluar di antara kedua belikatnya ; dan seorang lelaki Anshar melompat kepadanya, memukulnya dengan pedang di tengkuknya.

Sulaiman bin Yasar berkata : aku mendengar Ibnu Umar berkata :

Seorang budak perempuan, di puncak sebuah rumah, berkata : "Wahai Amirul Mukminin : budak hitam itulah yang membunuhnya."

Musa bin Uqbah berkata : kaum muslimin lalu tersebar mencari orang-orang mereka yang terbunuh, dan mereka tidak menemukan satu pun yang terbunuh kecuali telah didinga, kecuali Hanzhalah bin Abi Amir : ayahnya Abu Amir bersama kaum musyrik, dan beliau dibiarkan karena dirinya.

Mereka mengaku bahwa ayahnya berhenti di hadapannya yang telah mati, dan menindih dadanya dengan kakinya.

Kemudian ia berkata : "Dua utang yang telah kulunasi ; aku maju kepadamu di atas tempatmu, wahai Dunais ; dan demi umur Allah : engkau penyambung silaturahmi, baik kepada ayah."

Wafatnya Hamzah bin Abdul Muthalib

Dan mereka menemukan Hamzah yang perutnya telah dibuka ; Wahsyi membawa hatinya kepada Hind, sebagai penggenapan nadzar yang ia ucapkan ketika ayahnya terbunuh pada hari Badar ; beliau dimakamkan dengan sehelai gamis yang ada padanya : ketika digeser ke arah kepalanya, kakinya tampak : kakinya ditutupi dengan ranting-ranting.

Ibnu Ishaq : Buraidah menceritakan kepadaku, dari Muhammad bin Ka'b al-Quradhi :

Rasulullah, shallallahu 'alaihi wa sallam, bersabda : "Jika aku menang atas Quraisy, aku akan memutilasi tiga puluh orang dari mereka."

Ketika para sahabat Rasulullah, shallallahu 'alaihi wa sallam, melihat kesedihan beliau, mereka berkata :

"Jika kami menang atas mereka, kami akan memutilasi mereka seperti tidak ada seorang Arab pun yang memutilasi orang lain."

Allah lalu menurunkan : "Jika kalian menyiksa, maka siksalah sebagaimana siksaan yang kalian terima" (Surah an-Nahl ayat 126), hingga akhir surah.

Rasulullah, shallallahu 'alaihi wa sallam, mengampuni.

Abu Bakar bin Ayyasy : dari Yazid bin Abi Ziyad, dari Miqsam, dari Ibnu Abbas, yang berkata :

Ketika Hamzah terbunuh, Safiyyah, saudara perempuannya, datang ; beliau berjumpa Ali dan az-Zubair, yang menunjukkan kepadanya bahwa mereka tidak tahu.

Ia datang kepada Nabi, shallallahu 'alaihi wa sallam, yang bersabda : "Aku khawatir atas akal sehatnya."

Beliau meletakkan tangannya di atas dadanya, mendoakan ia ; ia membaca doa kembali (ruju') dan menangis.

Kemudian ia datang, berdiri di hadapannya : beliau telah didinga ; Nabi bersabda : "Seandainya tidak karena kesedihan para wanita, niscaya aku biarkan hingga beliau dibangkitkan dari pantat-pantat burung dan perut-perut hewan buas."

Kemudian beliau memerintahkan para jenazah : mulailah dishalat atas mereka dengan tujuh takbir, dan mereka diangkat, dengan meninggalkan Hamzah ; kemudian dibawa tujuh orang, dan beliau bertakbir tujuh kali atas mereka, hingga selesai.

Yazid : bukan dalil ; dan pendapat Jabir, bahwa beliau tidak shalat atas mereka, lebih tepat.

Dan dalam kedua Shahih, dari hadis Uqbah :

Bahwa Nabi, shallallahu 'alaihi wa sallam, shalat atas para jenazah Uhud dengan shalatnya atas jenazah.

Yang itu beberapa hari sebelum wafatnya.

Dan diriwayatkan, dari hadis Ibnu Abbas dan Abu Hurairah, sabdanya, semoga keselamatan terlimpahkan kepadanya : "Jika aku menang atas Quraisy, aku akan memutilasi tujuh puluh orang dari mereka."

Maka turunlah : "Jika kalian menyiksa...", ayatnya.

Abd an : Isa bin Ubaid al-Kindi mengabarkan kepada kami ; Rabi' bin Anas menceritakan kepadaku ; Abu al-'Ala menceritakan kepadaku, dari Ubai bin Ka'b :

Bahwa terbunuh, dari Anshar, pada hari Uhud, tujuh puluh orang ; ia berkata : mereka memutilasi orang-orang mereka yang terbunuh.

Para Anshar berkata : "Jika suatu hari nanti kami mendapati mereka, kami akan melebihi mereka."

Ketika tiba hari penaklukan Makkah, seorang lelaki yang tidak dikenal berteriak : "Tidak ada Quraisy lagi setelah hari ini !" Dua kali.

Allah mewahyukan kepada nabi-Nya : "Jika kalian menyiksa...", ayatnya.

Nabi, shallallahu 'alaihi wa sallam, bersabda : "Biarkanlah manusia."

Yunus bin Bukair : dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, yang berkata :

Safiyyah datang pada hari Uhud membawa dua helai kain untuk Hamzah ; ketika Rasulullah, shallallahu 'alaihi wa sallam, melihatnya, beliau tidak suka jika ia melihat Hamzah dalam keadaannya, dan mengutus az-Zubair kepadanya untuk menahannya, dan mengambil kedua kain itu.

Dan di dekat Hamzah terdapat seorang jenazah Anshar ; mereka tidak suka jika Hamzah diutamakan.

Nabi bersabda : "Undilah antara keduanya : yang mana dari keduanya melayang kepadanya yang lebih baik dari kedua kain itu : ia miliknya."

Mereka mengundi antara keduanya ; Hamzah dimakamkan dengan sehelai kain, dan orang Anshar dengan sehelai kain.

Ibnu Ishaq : dari Ismail bin Umayyah, dari Abu az-Zubair, dari Sa'id bin Juraij, dari Ibnu Abbas, yang berkata :

Nabi, shallallahu 'alaihi wa sallam, bersabda : "Ketika saudara-saudara kalian terbunuh di Uhud, Allah meletakkan ruh mereka ke dalam rongga burung-burung hijau yang datang ke sungai-sungai surga, memakan buah-buahnya dan kembali ke lentera-lentera emas yang tergantung di bawah naungan 'Arsy.

Ketika mereka menikmati kenikmatan makanan mereka, minuman mereka dan istirahat mereka, mereka berkata :

Siapa yang akan mengabarkan saudara-saudara kami tentang kami, bahwa kami hidup di surga dan diberi rezeki, agar mereka tidak lemah semangat dalam perang dan tidak jemu dalam jihad ?

Allah berfirman : akulah yang akan mengabarkan mereka darimu."

Maka turunlah : "Dan janganlah engkau mengira orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati" (Surah Ali Imran ayat 169).

Ibnu Ishaq : Asim bin Umar menceritakan kepadaku, dari Abdurrahman bin Jabir bin Abdullah, dari ayahnya :

Aku mendengar Rasulullah, shallallahu 'alaihi wa sallam, bersabda, ketika para sahabat Uhud disebutkan : "Demi Allah, aku berharap sekalian dikhianati dan terbunuh bersama para sahabat puncak gunung."

Maksudnya : terbunuh bersama mereka.

Dan datang, melalui sanad yang ada padanya kelemahan, dari Jabir :

Bahwa Nabi, shallallahu 'alaihi wa sallam, ketika melihat Hamzah telah mati, menangis ; dan ketika melihat kekejaman yang telah diperbuatnya atas beliau, beliau menangis tersedu-sedu.

Autres orthographes - Hamza ibn Abd al-Mouttalib

Siyar A’lam an-Noubala

بسم الله الرحمن الرحيم Sen 21 Jumadil Awal
الاثنين 21 جمادى الأولى
التربيع الأخير Kuartal Terakhir Hari 22.1 / 29.5
Iluminasi 50%
Bulan baru dalam 7 hari
سبحان الله وبحمده Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

QS. Al-Ahzab: 56

Shalawat Nabi