Accueil > Biographies des savants > Ibn Hibban (Muhammad ibn Hibban)
Diperbarui pada 07 Oktober 2026 pukul 08.56
[...] dari hadis.
Sampai ke Mesir, masuk menemui al-Ikhsyid, lalu berangkat ke Damaskus : madzhabnya diteliti, beliau dinyatakan buronan, dan beliau keluar dalam pelarian.
Ibnu Syahin berkata : "Aku masuk, bersama Ibnu al-Mudhaffar dan adz-Daruquthni, menemui al-Ji'abi ketika beliau sakit. Aku berkata kepadanya : siapakah aku ? Beliau menjawab : 'Subhanallah, bukankah kalian fulan dan fulan ?' Beliau menyebutkan kami, kami mendoakan beliau dan keluar. Kami melangkah beberapa langkah ketika mendengar kabar wafatnya, dan melihat kitab-kitabnya menjadi abu."
Al-Azhari berkata : "Saukanah, peratap kaum Rafidhah, meratap dalam iring-iringan jenazahnya."
Abu Nu'aim berkata : "Al-Ji'abi datang ke Isfahan dan berhadis di sana pada tahun tiga ratus empat puluh sembilan."
Ishaq bin Tariq mengabarkan kepada kami : Ibnu Khalil mengabarkan kepada kami : Abu al-Makaram at-Thaimi mengabarkan kepada kami : Abu Ali al-Haddad mengabarkan kepada kami : Abu Nu'aim mengabarkan kepada kami : Muhammad bin Umar bin Salm meriwayatkan kepada kami : Muhammad bin an-Nu'man meriwayatkan kepada kami : Hudbah meriwayatkan kepada kami : Hazm bin Abi Hazm meriwayatkan kepada kami : "Aku mendengar al-Hasan berkata : buruknya teman yaitu dinar dan dirham : keduanya tidak berguna bagimu hingga keduanya meninggalkanmu."
Aku berkata : beliau wafat pada bulan Rajab tahun tiga ratus lima puluh lima.
No. 70 : Ibnu Hibban, Muhammad bin Hibban bin Ahmad at-Tamimi.
Imam, sangat berilmu, penghafal, penguasa yang sempurna, syaikh Khurasan, Abu Hatim Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban bin Mu'adz bin Mu'bad bin Suhaid bin Hadiyyah bin Murrah bin Sa'ad bin Yazid bin Murrah bin Zaid bin Abdullah bin Darim bin Hanzhalah bin Malik bin Zaid Manat bin Tamim, at-Tamimi, ad-Darimi, al-Busti, penyusun kitab-kitab terkenal.
Beliau lahir pada tahun dua ratus tujuh puluh.
Guru beliau yang paling tua yang pernah ditemui Abu Khalifah adalah al-Fadhl bin al-Hubab al-Jumahi : beliau mendengar darinya di Bashrah, demikian pula Zakariyya as-Shaji.
Beliau mendengar di Mesir : Abu Abdurrahman an-Nasa'i, Ishaq bin Yunus al-Minjaniji, dan beberapa lainnya.
Di Mosul : Abu Ya'la Ahmad bin Ali.
Di Nasa : al-Hasan bin Sufyan.
Di Jurjan : Imran bin Musa bin Mujasyi' asy-Syakhtiyani.
Di Baghdad : Ahmad bin al-Hasan bin Abd al-Jabbar ahli tasawuf dan para setaranya.
Di Damaskus : Ja'far bin Ahmad, Muhammad bin Khuraim, dan beberapa orang.
Di Naisabur : Ibnu Khuzaimah, asy-Sharraj, dan al-Masarjis.
Di Asqalan : Muhammad bin al-Hasan bin Qutaibah.
Di Yerusalem : Abdullah bin Muhammad bin Salm.
Di Thabariyyah : Sa'id bin Hasym.
Di Herat : Muhammad bin Abdurrahman asy-Syami dan al-Husain bin Idris.
Di Tustar : Ahmad bin Yahya bin Zuhair.
Di Manbij : Umar bin Sa'id.
Di Ubullah : Abu Ya'la bin Zuhair.
Di Harran : Abu 'Urubah.
Di Makkah : al-Mufadhdhal al-Janadi.
Di Antiokhia : Ahmad bin Ubaidillah ad-Darimi.
Di Bukhara : Umar bin Muhammad bin Bujair.
Yang meriwayatkan dari beliau : Abu Abdullah Ibnu Mandah, Abu Abdullah al-Hakim, Manshur bin Abdullah al-Khalidi, Abu Mu'adz Abdurrahman bin Muhammad bin Rizqillah asy-Sijistani, Abu al-Hasan Muhammad bin Ahmad bin Harun az-Zauzani, Muhammad bin Ahmad bin Manshur an-Nuqathi, dan orang-orang lainnya.
Abu Sa'id al-Idrisi berkata : "Beliau menjadi hakim Samarkand beberapa waktu. Beliau termasuk para ahli fikih agama dan para penghafal hadis, mengenal kedokteran, astronomi dan cabang-cabang ilmu."
Beliau menyusun "Musnad shahih", yaitu "Kitab jenis-jenis dan pembagian-pembagian" ; "Kitab Tarikh" ; "Kitab ad-Dhu'afa" (perawi-perawi lemah) ; dan beliau mengajarkan fikih kepada penduduk Samarkand.
Al-Hakim berkata : "Ibnu Hibban termasuk wadah-wadah ilmu dalam fikih, bahasa, hadis dan dakwah, serta orang-orang cerdas di antara ahli-ahli perawi."
Beliau datang ke Naisabur pada tahun tiga ratus tiga puluh empat, menuju wilayah Nasa, lalu kembali kepada kami pada tahun tujuh. Beliau tinggal di antara kami di Naisabur dan mendirikan khanqah (ribath sufi). Kepada beliau dibacakan sejumlah karyanya. Kemudian beliau meninggalkan Naisabur menuju tanah kelahirannya, Sijistan, pada tahun empat puluh. Orang-orang datang kepadanya untuk mendengar kitab-kitabnya.
Abu Bakar al-Khatib berkata : "Ibnu Hibban terpercaya, mulia dan tajam pemahamannya."
Abu Amr Ibnu ash-Shalah berkata dalam "Thabaqat asy-Syafi'iyyah" : "Ibnu Hibban melakukan kesalahan-kesalahan besar dalam penilaiannya."
Ibnu Hibban berkata ketika menafsirkan kitab "Asnam" : "Mungkin kami telah menulis (hadis) dari lebih dari dua ribu guru."
Aku berkata : inilah cita-cita yang harus dimiliki, di samping apa yang beliau miliki dari fikih, bahasa Arab, keutamaan yang gemilang dan kelimpahan karya.
Al-Khatib berkata : Mas'ud bin Nashir as-Sijzi menyebutkan karya-karya Ibnu Hibban dan berkata : "Tarikh para orang terpercaya" ; "Cacat-cacat khayal para pembicarik sejarah", satu jilid ; "Cacat-cacat keutamaan az-Zuhri", dua puluh juz ; "Cacat-cacat hadis Malik", sepuluh juz ; "Cacat-cacat sanad Abu Hanifah", sepuluh juz.
"Tempat Sufyan menyelisihi Syu'bah", tiga juz ; "Tempat Syu'bah menyelisihi Sufyan", dua juz.
"Apa yang hanya diriwayatkan penduduk Madinah dari Sunan", satu jilid ; "Apa yang hanya diriwayatkan penduduk Makkah", satu jilid ; "Apa yang hanya diriwayatkan penduduk Irak", satu jilid ; "Apa yang hanya diriwayatkan penduduk Khurasan", satu jilid ; "Apa yang hanya diriwayatkan Ibnu 'Urubah dari Qatadah, atau Syu'bah dari Qatadah", satu jilid.
"Gharib (keunikan) riwayat-riwayat", satu jilid ; "Gharib penduduk Kufah", sepuluh juz ; "Gharib penduduk Bashrah", delapan juz ; "Nama-nama kunyah", satu jilid ; "Pemisahan dan penghubungan", satu jilid ; "Pemisahan antara hadis A'syats bin Abd al-Malik dan hadis A'syats bin Shiwwar", dua juz ; "Kitab tentang apa yang wajib dari yang mu'allaq", sepuluh juz.
"Keutamaan Malik" ; "Keutamaan asy-Syafi'i" ; "Kitab musnad menurut kota-kota", sepuluh juz ; "Al-Muqtabasat (kutipan-kutipan)", tiga jilid ; "Jenis-jenis ilmu dan deskripsinya", tiga jilid ; "Pedoman keilmuan Sunan", satu jilid ; "Penerimaan riwayat-riwayat" ; dan lain-lain.
Mas'ud bin Nashir berkata : "Dari karya-karya ini, hari ini hanya ditemukan sedikit sekali. Beliau telah menjadikan kitab-kitabnya waqf di sebuah gudang, dan yang menyebabkan hilangnya seiring waktu adalah lemahnya kekuasaan dan kuasanya para perusak."
Abu Ismail Abdullah bin Muhammad al-Anshari, penyusun kitab "Dhamm al-kalam", berkata : "Aku mendengar Abd as-Samad bin Muhammad bin Muhammad berkata : aku mendengar ayahku berkata : Abu Hatim Ibnu Hibban dicela karena ucapannya : 'Nubuwah adalah ilmu dan amal.' Beliau dijatuhi hukuman zindiq ; beliau diasingkan, dan ditulis kepada khalifah agar membunuhnya, dan khalifah pun menulis agar membunuhnya."
Aku berkata : ini riwayat yang ganjil. Ibnu Hibban termasuk imam-imam besar, dan kami tidak mengklaim bahwa beliau terjaga dari kesalahan. Namun ucapan yang beliau lafalkan ini dapat diucapkan oleh seorang Muslim, dan bisa juga diucapkan oleh zindiq yang berfilsafat. Adapun rumusan seorang Muslim tidak sesuai dengan itu ; namun ia dapat dimaafkan dengan dikatakan : beliau tidak bermaksud mereduksi permulaan menjadi sebab. Seumpama itu pula ucapan beliau, shallallahu 'alaihi wa sallam : "Haji adalah 'Arafah" ; padahal diketahui bahwa jamaah haji tidak menjadi berhaji hanya dengan berhenti di 'Arafah : kewajiban-kewajiban dan tuntunan lain masih wajib baginya ; beliau hanya menyebutkan inti haji.
Semacam itu pula orang ini hanya menyebutkan inti kenabian : sesungguhnya, di antara sifat-sifat nabi yang paling sempurna adalah kesempurnaan ilmu dan amal ; tidak ada nabi tanpa keduanya ; tetapi tidak setiap orang yang mewujudkan keduanya adalah nabi, karena kenabian adalah pemberian dari Yang Maha Benar, Yang Mahatinggi, yang tidak mungkin diraih oleh hamba ; bahkan dengan kenabianlah lahir ilmu yang datang dari hadirat ilahi dan amal yang lurus.
Adapun sang filsuf, ia berkata : kenabian adalah perolehan, dihasilkan oleh ilmu dan amal : itu kekufuran ; dan Abu Hatim sama sekali tidak bermaksud demikian, jauhlah sekali. Jika ada dalam susunan beliau ucapan-ucapan, takwil-takwil yang jauh dan hadis-hadis ganjil, itu benar ; dan beliau sendiri mengakui bahwa tidak dapat menyarikan "Shahih" miliknya kecuali orang yang menghafalnya, seperti orang yang memiliki Alquran dan tidak dapat menemukan ayat yang diinginkannya kecuali orang yang menghafalnya.
Beliau berkata dalam "Shahih"-nya : "Kami menetapkan syarat, dalam menyalinkannya dan menyimpannya dalam kitab kami, untuk tidak berdalil kecuali dengan apa yang menghimpun, bagi setiap guru dalam sanad, lima sifat :
Kelurusan dalam agama, dengan penutupan (cacat) yang indah.
Kedua : kejujuran dalam hadis, dengan keterkenalannya.
Ketiga : kecerdasan, terhadap hadis yang ia riwayatkan.
Keempat : ilmu, terhadap apa yang mengubah makna dari makna-makna yang ia riwayatkan.
Kelima : terbebasnya riwayatnya dari segala tadlis (penyembunyian cacat).
Barangsiapa menghimpun lima sifat ini, kami berdalil dengannya."
Abu Ismail al-Anshari berkata : "Aku mendengar Yahya bin Ammar, seorang mubalig, ketika aku menanyainya tentang Ibnu Hibban. Ia berkata : kami telah mengusirnya dari Sijistan. Beliau banyak ilmunya tetapi tidak memiliki agama yang besar. Beliau datang kepada kami, membantai hukum-hukum yang ditetapkan Allah, maka kami usir beliau."
Aku berkata : pembantahan kalian terhadapnya justru sebuah bid'ah, dan memasuki hal ini termasuk apa yang tidak diizinkan Allah : tidak ada teks yang datang menetapkan itu atau menyalahinya. "Termasuk keindahan agama seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak menjadi urusannya." Dan Allah Mahasuci dari dibatasi atau disifati selain dengan apa yang Dia sifatkan diri-Nya sendiri, atau yang Dia ajarkan kepada para rasul-Nya, dengan makna yang Dia kehendaki, tanpa tandingan dan tanpa bagaimana : "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat" (Surah Asy-Syura ayat 11).
Aku membaca dengan tangan al-hafizh adh-Dhiya', dalam satu jilid, bantahan-bantahan terhadap kitab Ibnu Hibban.
Ia berkata : pada hadis Anas tentang puasa hari-hari berturut-turut : "padanya terdapat dalil bahwa semua riwayat yang menyebut meletakkan batu di atas perutnya karena lapar adalah dongeng ; makna sebenarnya adalah lipatan pakaian (hujuz), tepi selimut, karena Allah memberi makan rasul-Nya : apa gunanya batu melawan lapar ?"
Aku berkata : namun beliau telah meriwayatkan dalam kitabnya hadis Ibnu Abbas tentang keluarnya Abu Bakar dan Umar, tertekan oleh lapar, yang menemui Nabi, shallallahu 'alaihi wa sallam, dan mengabarkannya. Beliau bersabda : "Yang mengeluarkan kalian telah mengeluarkanku." Yang menunjukkan bahwa beliau diberi makan dan diminum justru pada hari-hari berturut-turut.
Ia berkata : pada hadis Imran bin Husain ketika Nabi, shallallahu 'alaihi wa sallam, berkata kepada seorang lelaki : "Pernahkah engkau berpuasa beberapa hari putih di bulan Sya'ban ?" Ia berkata : tidak. Beliau bersabda : "Jika engkau berbuka, puasalah dua hari."
Itu adalah rumusan pertanyaan yang bertujuan menandai pembatalan kebolehan hal itu, seperti orang yang menegur pelakunya, seperti pula sabda beliau kepada 'Aisyah : "Engkau menutupi dinding-dinding ?!"
Dan perintahnya berpuasa dua hari Syawal dimaksudkan akhir hari-hari putih. Sesungguhnya, pada bulan penuh, hari-hari putih berjumlah satu hari dalam bulan yang kurang. Kami berkata : jika hal itu buruk di pandangan beliau, niscaya beliau tidak memerintahkan mengqadha-nya.
Ia berkata : pada hadis : "Aku melewati Musa yang sedang shalat di dalam kuburnya" : Allah menghidupkan Musa di dalam kuburnya hingga yang terpilih, 'alaihissalam, melewatinya ; dan kuburnya di Madyan, antara Madinah dan Yerusalem.
Dan pada hadis : "Beliau berkeliling kepada para istrinya dalam satu malam, dan beliau memiliki sembilan istri", dengan riwayat adz-Dastuwa'i dari Qatadah : "sebelas".
Ibnu Hibban berkata : Anas meriwayatkan kejadian ini darinya pada awal kedatangannya ke Madinah, ketika beliau memiliki sebelas istri.
Dan riwayat pertama, Anas tidak meriwayatkannya kecuali pada akhir kedatangannya ke Madinah, ketika beliau memiliki sembilan istri, karena perbuatan ini terulang beberapa kali.
Kami berkata : pada awal kedatangannya, beliau tidak memiliki istri selain Saudah ; kemudian hingga tahun keempat Hijrah beliau tidak memiliki lebih dari empat istri : beliau menikahi Hafshah dan Umm Salamah pada tahun tiga, sebelum keduanya Saudah dan 'Aisyah ; dan kami tidak mengetahui sebelas istri berkumpul di rumahnya dalam satu waktu yang sama.
Ia berkata : "Beliau menyebutkan riwayat yang dimansukh : ucapan orang yang mengaku bahwa terdapat seribu tahun antara Ismail dan Dawud." Beliau meriwayatkan riwayat Abu Dzar, yang berkata : "Wahai Rasulullah, berapa jarak antara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha ?" Beliau bersabda : "Empat puluh tahun."
Hadis Ibnu Umar : Nabi, shallallahu 'alaihi wa sallam, melaksanakan umrah pada bulan Rajab. Ia berkata : penjelasannya adalah bahwa ulama besar dapat lupa : karena yang terpilih hanya melaksanakan umrah empat kali : yang pertama, umrah qadha, tahun sebelum Hudaibiyah, dan itu pada bulan Ramadan ; kemudian yang kedua, ketika beliau menaklukkan Makkah, pada bulan Ramadan ; kemudian, ketika pulang dari Huzain, umrah dari al-Ji'ranah, dan itu pada bulan Syawal ; yang keempat, bersama haji beliau. Abu Hatim demikian keliru, sebagaimana kau lihat, dalam beberapa hal.
Karena dalam "Kedua Shahih" dari Anas : "Nabi Allah melaksanakan empat umrah, semuanya pada bulan Dzulqa'dah, kecuali umrah haji beliau : umrah Hudaibiyah, umrah beliau tahun berikutnya, dan umrah beliau dari al-Ji'ranah."
Ia berkata : "Beliau menyebutkan apa yang beliau bacakan, 'alaihissalam, duduk di antara dua khutbah, tetapi beliau tidak menyebutkan apa pun."
Ibnu Hibban wafat di Sijistan, di kota Bust, pada bulan Syawal tahun tiga ratus lima puluh delapan, pada usia delapan puluh tahun.
Dan aku tidak menemukan hadis beliau melalui sanad marfu' apa pun.
Menuliskan kepadaku Musallam bin Muhammad al-A'lani : Abu al-Yumn al-Kindi mengabarkan kepada kami : Abu Manshur asy-Syaibani mengabarkan kepada kami : Abu Bakar al-hafizh mengabarkan kepada kami : Abu Mu'adz Abdurrahman bin Muhammad mengabarkan kepada kami, pada tahun empat ratus tiga belas, ketika datang berhaji : Abu Hatim at-Tamimi mengabarkan kepada kami : Abu Khalifah meriwayatkan kepada kami : al-Qa'nabi meriwayatkan kepada kami, dari Syu'bah, dari Manshur, dari Rabi'i, dari Abu Mas'ud : Nabi, shallallahu 'alaihi wa sallam, bersabda : "Terdapat, di antara perkataan kenabian pertama yang diwariskan manusia : jika engkau tidak punya rasa malu, berbuatlah sesukamu."
Ahmad bin Hibbatillah mengabarkan kepada kami : Abu Rauh Abd al-Mu'izz bin Muhammad mengabarkan kepada kami : Zahir bin Tahir mengabarkan kepada kami : Abu Bakar al-Baihaqi mengabarkan kepada kami : Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin Manshur an-Nuqani mengabarkan kepada kami : Abu Hatim Muhammad bin Hibban meriwayatkan kepada kami : Ahmad bin al-Hasan ash-Shufi meriwayatkan kepada kami.
Dan Ahmad bin Ishaq mengabarkan kepada kami : Ahmad bin Saramah dan al-Fath bin Abdullah mengabarkan kepada kami, dengan berkata : Muhammad bin Umar mengabarkan kepada kami : Ibnu an-Naqqur mengabarkan kepada kami : Ali bin Umar al-Harbi mengabarkan kepada kami : ahli sufi meriwayatkan kepada kami : Yahya bin Ma'in meriwayatkan kepada kami : Abdah meriwayatkan kepada kami, dari Hisyam bin Urwah, dari Musa bin Uqbah, dari Abdullah bin Amr al-Awdi, dari Ibnu Mas'ud : dari Nabi, shallallahu 'alaihi wa sallam, yang bersabda : "Diharamkan atas neraka setiap orang yang mudah, lembut, dekat dan mudah berbaur." At-Tirmidzi meriwayatkannya dari hadis Abdah bin Sulaiman dan menyatakannya hasan.
Aku membaca di hadapan Sulaiman bin Hamzah, hakim : Muhammad bin Abd al-Wahid al-hafizh mengabarkan kepada kami : Abd al-Mu'izz bin Muhammad mengabarkan kepada kami bahwa Tamim al-Jurjani mengabarkan mereka : Ali bin Muhammad al-Bahhatsi mengabarkan kepada kami : Muhammad bin Ahmad az-Zauzani mengabarkan kepada kami : Muhammad bin Hibban mengabarkan kepada kami : al-Hasan bin Sufyan meriwayatkan kepada kami : Yazid bin Shalih dan Muhammad bin Aban al-Wasithi meriwayatkan :
Jarir bin Hazim meriwayatkan kepada kami : aku mendengar Abu Raja' al-Utharidi : aku mendengar Ibnu Abbas di atas mimbar berkata : Rasulullah, shallallahu 'alaihi wa sallam, bersabda : "Ia akan terus [...]
Siyar A’lam an-Noubala