Découvrez la signification du terme Al-dhwq (ذوق) dans le vocabulaire islamique.
Daftar isi :
Diperbarui pada 11 April 2026 pukul 01.05
📖 3 menit bacaYaitu daya yang memancar dari saraf yang terbentang di atas tubuh lidah, dengannya dirasakan rasa-rasa, sebab kelembapan liur mulut bercampur dengan yang berperasa lalu sampai ke saraf. Adz-dhawq dalam mengetahui Allah: ma'rifat yang bercahaya yang Sang Haqq lemparkan ke dalam hati para walinya melalui tajalli-Nya, dengannya mereka membedakan hak dari bathil tanpa mengambilnya dari kitab maupun dari selainnya.
Daya pada saraf yang terbentang di atas tubuh lidah; persepsinya melalui kelembapan liur: bagian-bagian halus dari yang berperasa bercampur dengannya, lalu kelembapan itu tenggelam dengannya ke tubuh lidah hingga indera perasa; yang dirasakan adalah kaifiyyah (keadaan) dari yang berperasa; kelembapan menjadi perantara memudahkan sampainya bagian-bagian halus pembawa kaifiyyah hingga indera; atau kelembapan itu sendiri mengambil kaifiyyah rasa karena berhimpitan, tenggelam sendirian, dan yang dirasakan adalah kaifiyyahnya sendiri.
Buah dari kasyafan dengan datangnya realitas-realitas yang diilhamkan.
Daya yang memancar di saraf yang terbentang di atas tubuh lidah, dengannya dirasakan rasa-rasa melalui campuran kelembapan liur; begitulah dalam Syarh al-'Aqa'id dan lainnya. Dalam al-Mufradat (karya ar-Raghib al-Isfahani, hlm. 182): adz-dhawq adalah hadirnya rasa melalui mulut; asalnya pada apa yang sedikit diambilnya, berlawanan dengan yang banyak diambilnya, yang dinamai akl (makan); Al-Qur'an memilih kata adz-dhawq bagi azab: sekalipun dalam pemakaian lazim ia bagi yang sedikit, ia pantas pula bagi yang banyak, dan disebut khusus dengannya demi mencakup kedua kasus.
«Dzuqtu asy-syay'»: aku merasakannya; dari situ «dzhaqa fulanan an-nasa 'irfahum»: fulan mengenal manusia (mencicipi pengetahuannya). «Dzhaqa ar-rajulu 'ashilatahu wa-dzhaqat 'ashilatuhu»: ketika datang kepada mereka manisnya persetubuhan dan kenikmatan pembuahan pada ikatan perkawinan. Dikatakan: adz-dhawq adalah membawa suatu hal ke mulut untuk merasakan rasanya, sebagaimana syamm adalah mencium suatu hal dengan hidung untuk merasakan baunya.
Adz-dhawq di kalangan sufi: ma'rifat yang bercahaya yang Sang Haqq lemparkan ke dalam hati para walinya melalui tajalli-Nya, dengannya mereka membedakan hak dari bathil tanpa mengambilnya dari kitab maupun dari selainnya (At-Ta'rifat, hlm. 112). Ibn 'Arabi berkata (At-Ta'rifat, hlm.
288): adz-dhawq adalah yang pertama dari prinsip-prinsip tajalli-tajalli keilahian.
Mashdar dari dzhaqa: mengetahui rasa suatu hal dengan lidah (dalam bahasa Inggris: mencicipi).
Yaitu mengenali rasa suatu hal dengan lidah dan selaput langit-langit (luhah).