Apa arti Al-iḥdath?

Islam > Glosarium > Al-iḥdath

Découvrez la signification du terme Al-iḥdath (إحداث) dans le vocabulaire islamique.

Daftar isi :

Diperbarui pada 11 April 2026 pukul 01.05

📖 3 menit baca

Definisi Al-iḥdath

Al-iḥdath selon Kitab at-Ta'rifat (Al-Jurjani)

Menciptakan suatu perkara yang didahului oleh waktu.

Al-iḥdath selon Dustur al-'Ulama (Al-Ahmadnagari)

Menciptakan suatu perkara dengan masa yang terdahulu; maka ia lebih khusus daripada takwin (mengada) yang adalah menciptakan suatu perkara dengan materi yang terdahulu, karena yang didahului oleh masa haruslah didahului oleh materi yang dengannya kemungkinannya tetap, berbeda dengan yang didahului oleh materi, karena tidak wajib ia didahului oleh masa, begitu pula tempat karena ia purba oleh waktu seperti benda-benda langit. Maka yang mengalir dari Allah Yang Mahatinggi adalah didahului oleh materi dan masa seperti binatang yang dilahirkan, atau tidak didahului oleh keduanya seperti aql pertama, karena ia tidak memiliki materi karena bukan jasad maupun berjasad, dan tidak pula masa karena ketinggiannya. Atau didahului oleh masa tanpa materi, padahal golongan ini tidak terwujud menurut apa yang telah engkau ketahui, yaitu bahwa segala yang didahului oleh masa didahului oleh materi agar kemungkinannya tetap dengannya, dan ini menurut pendapat para filsuf.

Adapun menurut pendapat para mutakallimin, segala sesuatu didahului oleh materi dan masa seperti jasad-jasad, atau didahului oleh masa tanpa materi seperti hakikat-hakikat ruhani. Asal perbedaan adalah bahwa kemungkinan menurut para filsuf adalah sifat wujudi yang nyata, maka ia memerlukan pembawa, sedangkan menurut para mutakallimin ia termasuk hal-hal i'tibari (konseptual), maka ia tidak memerlukan pembawa, dan setiap arah memiliki orientasi yang ditujunya. Takwin menurut sebagian mutakallimin adalah sifat qadim Allah Yang Mahatinggi, dan itulah makna yang diungkapkan oleh beramal, menciptakan, menghasilkan, menetapkan, menemukan dan istilah-istilah sejenisnya, dan ia dijelaskan dengan keluar dari tiada kepada ada.

Para shiddiqin di antara mereka berpendapat bahwa ia termasuk relasi-relasi dan pertimbangan-pertimbangan akali, dan yang tegak dalam keabadian adalah azal perwujudan, penghimpunan jauhar-jauhar, pemberian kematian dan kehidupan, dan lainnya, dan azal itu tidak lain adalah qudrah dan iradah, dan rincian maksud ini terdapat dalam kitab-kitab kalam.

Al-iḥdath selon At-Tawqif (Al-Munawi)

Menciptakan suatu perkara setelah sebelumnya tidak ada, baik ia 'aradh maupun jawhar, dan menetapkan jawhar hanya ditanggung oleh Allah.

Istilah terkait: Al-iḥdath

بسم الله الرحمن الرحيم Sen 22 Rabiul Akhir
الاثنين 22 ربيع الآخر
هلال متناقص Sabit Tua Hari 24.1 / 29.5
Iluminasi 30%
Bulan baru dalam 5 hari
لا إله إلا الله Tiada Tuhan selain Allah

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

QS. Al-Ahzab: 56

Shalawat Nabi