Tahun ke-6 Hijrah: Dzi Qarad, Banu al-Mushthaliq, dan Juwairiyah

Accueil > Sira > Tahun keenam Hijrah Nabi

Tahun ke-6 Hijrah: kejar-kejaran Salamah bin al-Akwa', ghazwah Banu al-Mushthaliq, peristiwa Ibnu Ubay, Juwairiyah, peristiwa ifk, dan urusan 'Ukl dan 'Urainah.

Diperbarui pada 05 Oktober 2026 pukul 10.56

Awal tahun: ghazwah Banu Lihyan

Inilah tahun keenam Hijrah Nabi. al-Baihaqi berkata: dikatakan pada Muharram tahun ini terjadi sariyyah Muhammad bin Maslamah menuju Najd, dan mereka menawan di dalamnya Tsumamah bin Utsal al-Yamami. Aku berkata: tetapi dalam riwayat Ibnu Ishaq dari Sa'id al-Maqburi dari Abu Hurairah bahwa ia menyaksikan hal itu, padahal ia baru berhijrah setelah Khaibar, maka haruslah diriwayatkan pada yang berikutnya, dan Allah lebih mengetahui. Dan ini adalah tahun yang di awalnya terjadi ghazwah Banu Lihyan menurut yang sahih.

Ibnu Ishaq berkata: penaklukan Banu Quraidhah pada Dzulqa'dah dan awal Dzulhijjah, dan haji tahun ini dihalangi para musyrik, yaitu pada tahun lima sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Kemudian Rasulullah tinggal di Madinah pada Dzulhijjah, Muharram, Shafar, dan dua bulan Rabi', lalu berangkat pada Jumada al-Ula, enam bulan dari penaklukan Quraidhah, menuju Banu Lihyan mencari pelaku ar-Raji', Khubaib dan sahabat-sahabatnya, dan beliau memperlihatkan bahwa beliau menuju Syam untuk menangkap kaum itu dalam kelalaian. Ibnu Hisyam berkata: beliau menunjuk Ibnu Umm Maktum sebagai wakil di Madinah. Ketika beliau sampai ke kediaman mereka, mereka lari ke hadapannya dan berteduh di puncak-puncak gunung, lalu beliau menuju Usfan dan mendapati di sana gerombolan para musyrik, dan salat khauf di sana:

dan penyebutan ghazwah ini telah lewat pada tahun keempat di mana al-Baihaqi menyebutkannya, dan yang lebih tampak adalah yang disebutkan Ibnu Ishaq bahwa ia setelah Khandaq, dan telah tetap bahwa beliau salat di Usfan pada hari Banu Lihyan, maka hendaklah ia dicatat di sini dan dialihkan dari sana, mengikuti imam ahli maghazi pada zamannya dan setelahnya, sebagaimana kata asy-Syafi'i: siapa yang menghendaki maghazi bergantung kepada Muhammad bin Ishaq. Dan Ka'b bin Malik berkata dalam ghazwah Banu Lihyan: seandainya Banu Lihyan berhadapan, niscaya mereka jumpai pasukan di kediaman mereka di sumber-sumber air, mereka jumpai yang selaju, yang ketakutannya memenuhi kawanan di depan dataran bagian celah Felq, tetapi mereka kawanan yang berkeliaran di lembah-lembah gunung tanpa pundak untuk menyerbu.

Ghazwah Dzi Qarad: serbuan 'Uainah dan kejaran Salamah

Ibnu Ishaq berkata: kemudian Rasulullah kembali ke Madinah dan tidak tinggal di sana kecuali beberapa malam hingga 'Uainah bin Hisn bin Huzaifah bin Badr al-Fazari melakukan serbuan dengan penunggang kuda Ghatafan pada padang gembala bagal Nabi di al-Ghabah, di sana ada seorang laki-laki dari Banu Ghifar bersama istrinya, dan mereka membunuh laki-laki itu dan membawa perempuan itu di atas bagalnya. 'Ashim bin 'Umar bin Qatadah, Abdullah bin Abi Bakr, dan orang yang tidak kuduga dusta menceritakan kepadaku dari Abdullah bin Ka'b bin Malik: yang pertama memberi kabar tentang mereka adalah Salamah bin 'Amr bin al-Akwa' al-Aslami, yang berangkat pada pagi hari menuju al-Ghabah menggulung busur dan panahnya, bersamanya seorang pemuda dari Thalhah bin Ubaidillah membawa seekor kuda yang ia tunggangi, dan ketika ia memanjat pintu gunung al-Wada', ia melihat sebagian kuda mereka jauh ke arah:

Sal', lalu ia berseru: wahai kawan-kawan pagi, kemudian melaju kencang di atas jejak mereka, dan ia seperti cheetah hingga menyusul mereka, lalu mulai mengusir mereka dengan panah dan berkata ketika melepas panah: sambutlah, dan aku anak al-Akwa'; hari ini adalah hari payudara; dan ketika kuda-kuda itu berbalik ke arahnya, ia lari menghindar kemudian menghadapi mereka, dan ketika tembakan dalam jangkauannya, ia memanah lalu berkata: sambutlah, dan aku anak al-Akwa'; hari ini adalah hari payudara; dan salah seorang dari mereka berkata: inilah yang harus kalian sambut, ia di awal hari. Seruan anak al-Akwa' sampai kepada Rasulullah yang berseru di Madinah: bahaya, bahaya, maka kuda-kuda berlomba menuju Rasulullah, dan yang pertama dari para penunggang kuda yang:

sampai adalah al-Miqdad bin al-Aswad, kemudian 'Abbad bin Bisyar dan Sa'd bin Zaid dan Usaid bin Dzuhaivr yang diragukan, dan 'Uqqasyah bin Mishshan dan Muhriz bin Nadlah, saudara sefaksi Banu Asad bin Khuzaimah, dan Abu Qatadah al-Harits bin Ribi', saudara sefaksi Banu Salamah, dan Abu Ayyasy 'Ubaid bin Zaid bin Samit, saudara sefaksi Banu Zuraiq. Ketika mereka terkumpul pada Rasulullah, beliau menunjuk Sa'd bin Zaid sebagai pemimpin mereka, lalu berkata: berangkatlah mengejar kaum itu hingga aku menyusul kalian di antara manusia. Dan Nabi telah berkata kepada Abu Ayyasy, menurut yang sampai kepadaku dari ahli Banu Zuraiq: wahai Abu Ayyasy, jika engkau memberikan kuda ini kepada lelaki yang lebih cakap darimu, niscaya ia menyusul kaum itu. Abu Ayyasy berkata: wahai rasul Allah, akulah yang paling cakap. Kemudian beliau menyentak:

kuda itu, dan kuda itu tidak berlari bersamanya lima puluh hasta kecuali menjatuhkannya, dan beliau tercengang akan itu. Sebagian ahli Banu Zuraiq mengklaim bahwa Rasulullah memberikan kuda Abu Ayyasy kepada Mu'adz bin Ma'ish atau 'A'idz bin Ma'ish bin Qais bin Khaldaah yang merupakan yang kedelapan, dan sebagian manusia menghitung Salamah bin al-Akwa' sebagai yang kedelapan dan menyingkirkan Usaid bin Dzuhaivr, dan Allah lebih mengetahui mana yang benar. Dan Salamah bin al-Akwa' pada hari itu tidak menunggang kuda, dan ia yang pertama menyusul kaum itu dengan berjalan kaki, dan para penunggang kuda berangkat saling menyusul. 'Ashim bin 'Umar bin Qatadah menceritakan kepadaku bahwa penunggang kuda pertama yang menyusul kaum itu adalah Muhriz bin Nadlah yang disebut al-Akhram atau Qumair, dan kuda:

di bawahnya milik Mahmud bin Maslamah, dan kuda itu bernama Dzul-Limmah. Ketika ia sampai kepada musuh, ia berkata kepada mereka: berhentilah, wahai ahli Banu Laki', hingga menyusul kalian yang di belakang, Muhajirin dan Anshar. Seorang lelaki dari mereka menerkamnya dan membunuhnya, dan kuda itu berputar dan tidak ada yang mampu menguasainya hingga kembali ke talinya, yaitu kembali ke kandangnya yang di Madinah, dan yang terbunuh pada hari itu dari kaum muslimin hanya ia. Ibnu Hisyam berkata: lebih dari seorang ahli ilmu menyebutkan bahwa bersamanya turut terbunuh juga Waqqash bin Mujazziz al-Mudliji. Ibnu Ishaq berkata: salah seorang yang tidak kuduga dusta menceritakan kepadaku dari Abdullah bin Ka'b bin Malik bahwa Muhriz:

menunggang kuda milik 'Uqqasyah bin Mishshan bernama al-Janah, dan Muhriz terbunuh dan al-Janah dirampas, dan Allah lebih mengetahui. Ketika kuda-kuda telah saling menyusul, Abu Qatadah membunuh Habib bin 'Uainah dan menyelimutinya dengan jubahnya, kemudian menyusul orang-orang, dan Rasulullah maju bersama kaum muslimin. Ibnu Hisyam berkata: beliau menunjuk Ibnu Umm Maktum sebagai wakil di Madinah. Tampaklah Habib terbungkus jubah Abu Qatadah, dan manusia melakukan apel saat kepulangan dan berkata: Abu Qatadah terbunuh. Rasulullah berkata: itu bukan Abu Qatadah, tetapi korban Abu Qatadah; ia telah menyelimutinya dengan jubahnya agar kalian tahu bahwa ia sahabatnya. Dan 'Uqqasyah bin Mishshan menyusul Awwar dan anaknya 'Amr bin Awwar yang menunggang:

satu unta, lalu menikam keduanya dengan tombak dan membunuh keduanya, dan mereka mendapatkan kembali sebagian bagal itu. Rasulullah berjalan hingga berkemah di gunung Dzi Qarad, di sana manusia menyusulnya, dan beliau tinggal di sana sehari semalam. Salamah bin al-Akwa' berkata kepadanya: wahai rasul Allah, jika engkau menunjukku pemimpin seratus orang, akan kudapatkan sisa kawanan itu dan akan kudenta leher-leher kaum itu. Rasulullah berkata, menurut yang sampai kepadaku: mereka saat ini menyusup di tengah Ghatafan. Rasulullah membagikan di antara sahabat-sahabatnya, setiap seratus orang seekor hewan untuk disembelih, dan mereka tinggal di sana kemudian kembali berbarisan hingga sampai ke Madinah, dan istri lelaki Ghifar itu datang di atas seekor unta betina milik:

Nabi hingga sampai ke Madinah dan memberitahukan berita itu, dan ketika ia selesai ia berkata: wahai rasul Allah, aku bernazar kepada Allah untuk menyembelihnya jika Allah memberiku kemenangan atasnya. Rasulullah tersenyum lalu berkata: alah payahnya budi itu; Allah menempatkanmu di atasnya dan menyelamatkanmu dengannya, lalu engkau menyembelihnya; tidak ada nazar dalam ketaatan... dalam kedurhakaan kepada Allah dan tidak ada (nazar) atas apa yang engkau tidak miliki; itu hanya seekor unta betina dari untaku, maka kembalilah kepada keluargamu dengan berkah Allah. Ibnu Ishaq berkata: hadits tentang itu dari Abu az-Zubair al-Makki dari al-Hasan al-Bashri; demikian Ibnu Ishaq meriwayatkan kisah ini dengan apa yang ia sebutkan dari sanad dan riwayat.

Riwayat shahih Salamah: engkau telah menguasai, biarkan

al-Bukhari berkata: setelah riwayat Hudaibiyah dan sebelum Khaibar, ghazwah Dzi Qarad, yaitu ghazwah ketika mereka menyerbu padang gembala Nabi, tiga (bulan) sebelum Khaibar: Qutaibah bin Sa'id meriwayatkan kepada kami, Hathim meriwayatkan kepada kami dari Yazid bin Abi 'Ubaid: aku mendengar Salamah bin al-Akwa' berkata: aku berangkat sebelum diseru salat pertama, dan padang gembala Nabi sedang menggembala di Dzi Qarad, lalu mendapatiku seorang pemuda dari Abd ar-Rahman bin Auf dan berkata: padang gembala Nabi telah dirampas. Aku berkata: siapa yang merampasnya? Ia berkata: Ghatafan. Maka aku berseru tiga kali: wahai kawan-kawan pagi, dan terdengar sampai di antara dua Harrah Madinah, kemudian aku melaju kencang hingga menyusul mereka yang sedang sibuk:

minum air, lalu aku mulai memanah mereka dengan panahku, dan aku penembak yang jitu, sambil berkata: aku anak al-Akwa'; hari ini adalah hari payudara; dan terus menuang syair hingga mendapatkan kembali padang gembala itu dari mereka dan mengambil dari mereka tiga puluh jubah. Kemudian datang Nabi dan manusia. Aku berkata: wahai rasul Allah, aku telah menahan mereka dari air dan mereka kehausan, kirimkanlah kepadanya seketika. Beliau berkata: wahai anak al-Akwa', engkau telah menguasai, biarkan. Kemudian kami kembali, dan Rasulullah membuatku menunggang di belakangnya di atas untanya hingga kami sampai ke Madinah; demikian Muslim meriwayatkannya dari Qutaibah, semisal itu, dan al-Bukhari meriwayatkannya dari Abu Ashim an-Nabil dari Yazid bin Abi 'Ubaid dari maulanya Salamah, semisal itu.

Versi panjang: dari pagi hingga senja

Imam Ahmad berkata: Hasyim bin al-Qasim meriwayatkan kepada kami, Ikrimah bin 'Ammar meriwayatkan kepada kami, Iyas bin Salamah bin al-Akwa' menceritakan kepadaku dari ayahnya: kami tiba di Madinah pada masa Hudaibiyah bersama Rasulullah, dan aku keluar dan Rabah, budak Nabi, di belakang Rasulullah, dan aku keluar membawa seekor kuda milik Thalhah bin Ubaidillah yang ingin kubawa bersama unta-unta, dan ketika tiba waktu sore, 'Abd ar-Rahman bin 'Uainah melakukan serbuan pada unta-unta Rasulullah, membunuh gembalanya, dan mengusirnya, ia dan beberapa lelaki bersamanya menunggang kuda. Aku berkata: wahai Rabah, tunggangilah kuda ini dan susulilah Thalhah, dan kabarkan kepada Rasulullah bahwa telah dilakukan serbuan pada kawanannya, dan aku berdiri di atas sebuah bukit dan menghadapkan wajahku ke Madinah lalu berseru tiga kali: wahai kawan-kawan pagi, kemudian mengikuti kaum itu dengan pedang dan panahku, dan mulai memanah dan menikam mereka, dan itu ketika pepohonan:

bertambah lebat; jika ada penunggang kuda kembali ke arahku, aku bersembunyi baginya di bawah pohon, kemudian memanah, dan tidak ada penunggang kuda mendekatiku kecuali kutikam; aku terus memanah sambil berkata: aku anak al-Akwa', dan hari ini adalah hari payudara; kemudian kususul seorang lelaki dari mereka dan memanahnya di atas tunggangannya, dan panahku mengenai lelaki itu hingga menembus pundaknya. Aku berkata: sambutlah, dan aku anak al-Akwa', dan hari ini adalah hari payudara; dan ketika aku di pohon, aku menembak mereka dengan panah, dan ketika jalur-jalur menyempit, aku memanjat gunung dan mengusir mereka dengan batu, dan itu terus urusanku dan urusan mereka: mengejarku dan menuang syair, hingga tidak tersisa apa pun di belakang Rasulullah kecuali kuletakkan di belakang punggungku dan kudapatkan dari tangan mereka, kemudian terus memanah mereka hingga mereka melempar lebih dari tiga puluh tombak dan:

lebih dari tiga puluh jubah yang mereka lepas, dan tidak melempar apa pun dari itu kecuali kuletakkan sebutir batu padanya, dan kutumpuk di jalan Rasulullah. Ketika pagi meluas, datang membantu mereka 'Uainah bin Badr al-Fazari semasa mereka berada dalam celah sempit, dan aku memanjat gunung dan berada di atas mereka. 'Uainah berkata: apa ini yang kulihat? Mereka berkata: kami telah mendapati dari penembak ini apa yang tidak berhenti darinya sejak fajar hingga sekarang, dan ia mengambil semua yang di tangan kami dan meletakkannya di belakang punggungnya. 'Uainah berkata: seandainya orang ini tidak melihat ada pasukan di belakangnya, niscaya ia membiarkan kalian; naiklah kepadanya sekelompok dari kalian. Lalu naik ke arahnya empat orang dari mereka yang memanjat gunung, dan ketika kubuat mereka mendengar suaraku, aku berkata: kenalkah kalian padaku? Mereka berkata: siapa engkau? Aku berkata: aku anak al-Akwa':

dan demi Zat yang memuliakan wajah Muhammad, tidak akan ada seorang lelaki dari kalian mencariku kecuali menyusulku, dan aku tidak mencarinya kecuali lolos darinya. Seorang lelaki dari mereka berkata: aku menduga demikian. Aku tetap duduk di sana hingga melihat penunggang-penunggang kuda Rasulullah merintis jalan di antara pepohonan, dan tampaklah yang pertama al-Akhram al-Asadi, di belakangnya Abu Qatadah penunggang kuda Rasulullah, dan di belakang Abu Qatadah al-Miqdad bin al-Aswad al-Kindi, dan para musyrik berbalik badan, lalu aku turun dari gunung dan mengambil tali kekang kuda itu dan berkata: wahai Akhram, berilah tahu manusia, yaitu berhati-hatilah, karena aku tidak menjamin mereka tidak memutus jalanmu; tunggulah hingga menyusul Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Ia berkata: wahai Salamah, jika engkau beriman kepada Allah dan hari akhir dan mengetahui bahwa Surga hak dan Neraka hak, maka jangan berdiri antara aku dan syahid, dan aku:

melepaskan tali kekang kuda itu, dan ia menyusul Abd ar-Rahman bin 'Uainah; Abd ar-Rahman berbalik menghadapinya dan keduanya bertukar dua tusukan tombak; al-Akhram menikam Abd ar-Rahman, dan Abd ar-Rahman memukulnya dan membunuhnya, lalu Abd ar-Rahman menunggang kuda al-Akhram. Abu Qatadah menyusul Abd ar-Rahman dan keduanya bertukar dua tusukan tombak; ia menikam Abu Qatadah, dan Abu Qatadah membunuhnya, lalu Abu Qatadah menunggang kuda al-Akhram. Kemudian aku melaju kencang di atas jejak mereka hingga tidak lagi melihat debu para sahabat Nabi, dan mereka menuju sebelum matahari terbenam sebuah lembah berisi air bernama Dzi Qarad dan hendak minum darinya, dan mereka melihatku mengejar mereka lalu meninggalkannya dan bergegas dalam celah Dzi Bi'r, dan matahari terbenam. Kususul seorang lelaki dan memanahnya dan berkata: sambutlah, dan aku anak al-Akwa', dan hari ini:

adalah hari payudara. Ia berkata: celakalah ibu al-Akwa'; ini pagi hari. Aku berkata: ya, wahai musuh dirimu sendiri; dan yang kupanah adalah Bukair, dan kususulnya dengan panah tambahan, dan dua panah menempel padanya, dan mereka meninggalkan dua kuda. Aku datang membawa keduanya sambil menuntunnya kepada Rasulullah yang berada di air yang kukhalangi mereka, Dzi Qarad, dan tampaklah Nabi Allah bersama lima ratus orang, dan tampaklah Bilal yang baru menyembelih seekor hewan dari yang kutinggalkan dan memanggang untuk Rasulullah hati dan punuknya. Aku datang kepada Rasulullah dan berkata: wahai rasul Allah, biarkan aku memilih seratus dari sahabatmu dan akan kuterkam orang-orang kafir pada malam hari, dan tidak akan tersisa dari mereka satu pun pembawa kabar kecuali kubunuh. Beliau berkata: sungguh engkau akan melakukannya, wahai Salamah? Aku berkata: ya, demi Zat yang memuliakanmu. Rasulullah tertawa hingga:

kulihat giginya di cahaya api, lalu berkata: mereka saat ini sedang menggembala di tanah Ghatafan. Kemudian datang seorang lelaki dari Ghatafan yang berkata: menginaplah pada Fulan al-Ghathafi yang akan menyembelih untuk kalian seekor hewan, dan ketika mereka mulai menguliti kulitnya, mereka melihat debu dan meninggalkannya, lalu keluar dalam kekalahan. Pada pagi hari Rasulullah berkata: yang terbaik penunggang kuda kami hari ini adalah Abu Qatadah dan yang terbaik pejalan kaki kami Salamah, dan Rasulullah memberiku bagian penunggang kuda dan pejalan kaki sekaligus, kemudian membuatku menunggang di belakangnya di atas al-'Adhba', unta balap yang kembali menuju Madinah. Ketika jarak antara kami dan Madinah sejauh pagi berjalan, dan di antara manusia ada seorang lelaki Anshar yang tidak terkalahkan, mulai berseru: siapa penantang, adakah lelaki untuk lomba menuju Madinah, dan ia mengulanginya beberapa kali, dan aku di belakang Rasulullah:

di pelana, dan aku berkata: tidakkah engkau memuliakan orang mulia dan tidakkah engkau takut kepada orang terhormat? Ia berkata: tidak, kecuali Rasulullah. Aku berkata: wahai rasul Allah, semoga ayah dan ibuku tebusanmu, biarkan aku bertanding dengan lelaki itu. Beliau berkata: silakan jika engkau mau. Aku berkata: berangkatlah, giliranku. Beliau melompat dari tunggangannya, dan kuregangkan kedua kakiku dan melompat dari unta itu, kemudian aku melesat dengan satu-dua langkah, yaitu kemenangkan napasku, lalu berlari hingga menyusulnya dan memukul di antara kedua bahunya dengan tanganku dan berkata: aku mengalahkanmu demi Allah, atau ucapan semacam itu, dan beliau tertawa dan berkata: aku menduga demikian, hingga kami sampai ke Madinah; demikian Muslim meriwayatkannya melalui jalur-jalur dari Ikrimah bin 'Ammar, semisal itu, dan pada riwayatnya: aku mengalahkanmu menuju Madinah; dan kami hanya tinggal tiga hari hingga kami berangkat menuju Khaibar, dan Ahmad memiliki riwayat ini.

Penetapan waktu: tiga hari sebelum Khaibar, dan unta balap

al-Bukhari dan al-Baihaqi menyebutkan ghazwah ini setelah Hudaibiyah dan sebelum Khaibar, dan itu lebih tampak daripada yang disebutkan Ibnu Ishaq, dan Allah lebih mengetahui, maka patutlah ia diriwayatkan pada awal tahun tujuh Hijrah, karena Khaibar pada Shafar tahun itu. Adapun kisah perempuan yang diselamatkan di atas unta Nabi dan bernazar menyembelihnya atas keselamatan di atasnya, Ibnu Ishaq meriwayatkannya dalam versinya dari Abu az-Zubair dari al-Hasan al-Bashri, mursal, dan ia datang bersanad melalui jalur-jalur lain. Imam Ahmad berkata: 'Affan meriwayatkan kepada kami, Hammad bin Zaid meriwayatkan kepada kami, Ayyub meriwayatkan kepada kami dari Abu Qilabah:

dari Abu al-Muhallab dari 'Imran bin Husain: al-'Adhba' milik seorang lelaki dari Banu 'Aqil, dan ia unta yang diutamakan untuk haji, dan lelaki itu ditawan dan al-'Adhba' dirampas bersamanya, dan Rasulullah melewati dirinya sedangkan ia dalam belenggu, dan Rasulullah di atas keledai yang diselimuti beludru. Ia berkata: wahai Muhammad, atas apa kalian menahanku dan kalian menahan unta yang diutamakan untuk haji? Rasulullah berkata: kami menahanmu karena dosa sekutumu, Tsaqif, dan Tsaqif telah menawan dua orang dari para sahabat Nabi. Ia berkata dalam ucapannya: dan sungguh aku muslim. Rasulullah berkata: seandainya engkau mengatakannya saat menguasai urusanmu:

niscaya engkau memperoleh keseluruhan keberuntungan. Kemudian Rasulullah berjalan. Ia berkata: wahai Muhammad, sungguh aku lapar, berilah aku makan, dan sungguh aku haus, berilah aku minum. Rasulullah berkata: itulah kebutuhanmu. Kemudian ia ditukar dengan kedua lelaki itu, dan Rasulullah menahan al-'Adhba' untuk tunggangannya. Kemudian para musyrik menyerbu kawanan Madinah dan membawanya, dan al-'Adhba' ada di dalamnya, dan mereka menawan seorang perempuan dari kaum muslimin, dan ketika berkemah mereka memberi minum unta mereka dari botol-botol mereka, dan perempuan itu bangkit suatu malam setelah membuat mereka tertidur dan mulai berpindah dari unta ke unta sambil membunyikannya hingga sampai pada al-'Adhba', dan ia naik seekor unta betina yang jinak:

berpunuk besar, kemudian menungganginya dan mengarahkannya ke Madinah, dan ia bernazar bahwa jika Allah menyelamatkannya di atasnya, ia akan menyembelihnya. Ketika ia tiba di Madinah, unta itu dikenali, dikatakan: unta Rasulullah, dan Rasulullah diberi tahu nazarnya, atau ia datang kepadanya dan memberitahukannya. Beliau berkata: alah payahnya budi perempuan itu; Allah menyelamatkannya di atasnya lalu ia menyembelihnya. Kemudian Rasulullah berkata: tidak ada penunaian nazar dalam kedurhakaan kepada Allah dan tidak ada pada apa yang tidak dimiliki anak Adam. Muslim meriwayatkannya dari Abu ar-Rabi' az-Zahrani dari Hammad bin Zaid, semisal itu.

Ibnu Ishaq berkata: di antara yang dikatakan sebagai syair dalam ghazwah Dzi Qarad adalah ucapan Hassan bin Tsabit: seandainya bukan karena yang dikenai dan disentuh oleh burung rajanya di selatan alas kelmarin sebagai penunjuk jalan, niscaya kami menemui kalian menggendong setiap gulungan, penjaga kebenaran, membanggakan para leluhur; keberuntungan bagi anak-anak Laqitsah bahwa kami berada dalam ketenangan pada pagi perang al-Miqdad; kami delapan dan mereka satuan barisan yang bercampur baur, dan mereka bercampur dengan tombak-tombak yang kacau; kami dari kaum yang memeluk mereka dan mengulur tali kekang setiap kuda; bukan demi Rabb para penari sampai ke Mina, niscaya mereka memotong melintang gembok-gembok tinggi, hingga kami membuat kuda-kuda berlari kencang dalam paradamu dan kembali dengan para permaisuri dan anak-anak dengan langkah santai; pada setiap pelana dan setiap penutup kepala, pada setiap medan perang yang berputar dan lembah yang melelahkan kaki di belakang:

dan mengangkat pagar-pagar; suatu hari ketika diantar dan suatu hari pengasingan; dan demikian kuda-kuda pelana kami bersol, dan perang dinyalakan angin rayuan, dan pedang-pedang kami putih baja, menelanjangi zirah-zirah besi dan jambul orang yang murtad; Ilah bersumpah atas mereka dengan larangan-Nya dan dengan kemuliaan Yang Maha Pengasih dari segala pertolongan: mereka berada dalam tempat beroleh kenikmatan, lalu diubah pada hari-hari Dzi Qarad menjadi wajah-wajah kekeraskepalaan. Ibnu Ishaq berkata: Sa'd bin Zaid, pemimpin sariyyah para penunggang kuda barisan depan di hadapan Rasulullah, marah kepada Hassan dan bersumpah tidak akan pernah berbicara dengannya dan berkata: aku akan pergi ke kuda-kudaku dan para penunggangku dan menyerahkannya kepada al-Miqdad, dan Hassan meminta maaf kepadanya karena perawi telah menjadikan nama al-Miqdad, kemudian menuang bait-bait memujinya: Sa'd bin Zaid: jika kalian menghendaki yang paling keras cambuknya atau yang paling:

untung, maka kepadamu Sa'd, Sa'd bin Zaid, yang tidak dapat dijatuhkan oleh kejatuhan. Dan itu tidak menyentuhnya sedikit pun. Hassan bin Tsabit berkata pada hari Dzi Qarad: renungkanlah, wahai 'Uainah, ketika mendatanginya, ia mengira akan meruntuhkan istana-istana, tetapi engkau dibantah, engkau yang membenarkannya; mereka berkata: kami akan menjarah perkara besar, dan engkau takut terhadap Madinah ketika mendatanginya dan merasakan pada singa di sana sebuah auman; maka mereka berbalik cepat seperti burung unta dan tidak membentangkan alas yang ditenun; ada di atas kami seorang pemimpin, rasul Rabb, yang dengan itu mencintai yang lebih kami cintai; seorang pemimpin, seorang rasul, yang kami beriman pada apa yang sampai kepadanya dan yang membaca kitab yang cahaya dan terang. Dan Ka'b bin Malik berkata pada hari Dzi Qarad, memuji para penunggang kuda kaum muslimin hari itu: apakah anak-anak Laqitsah mengira kami tidak seperti mereka di atas:

kuda-kuda di antara para penunggang; dan sungguh kami kaum yang tidak memandang pembunuhan sebagai penghinaan dan tidak tunduk kepada tombak-tombak saat menyerbu; dan sungguh kami menyantuni tamu sejak sarang gandum dan memukul kepala si juling yang mencari mangsanya; kami mengusir rombongan-rombongan bertanda ketika mereka memilih, dengan pukulan yang menyenangkan kemuliaan kepala yang terjungkal; setiap pemuda penjaga kebenaran, mulia, dermawan seperti kawanan rusa berbeludru; mereka membela klan-klan dan anak-anak mereka dengan bidadari-bidadari yang menunjukkan puncak-puncak di bawah helm-helm; maka tanyakanlah kepada anak-anak Badr ketika engkau bertemu mereka, apa yang dilakukan saudara-saudaranya pada hari penyergapan; ketika kalian keluar, berlaku jujurlah kepada yang kalian temui dan jangan sembunyikan kabar kalian dalam majelis-majelis, dan katakanlah: kami telah melesat seperti cakar bangau darinya luka di dada yang tidak digugat.

Ghazwah Banu al-Mushthaliq: dosa Miqyas

al-Bukhari berkata: itulah ghazwah al-Muraisi'. Muhammad bin Ishaq berkata: itu pada tahun keenam. Musa bin Uqbah berkata: pada tahun keempat, dan an-Nu'man bin Rasyid berkata dari az-Zuhri: riwayat ifk dalam ghazwah al-Muraisi'; demikian al-Bukhari meriwayatkan dari maghazi Musa bin Uqbah bahwa ia pada tahun keempat, dan demikian yang diriwayatkan al-Baihaqi darinya dan dari Urwah bahwa ia pada Sya'ban tahun kelima. al-Waqidi berkata: ia dua malam terlewati Sya'ban tahun kelima dengan tujuh ratus dari sahabat-sahabatnya. Muhammad bin Ishaq bin Yasar berkata, setelah meriwayatkan kisah Dzi Qarad: Rasulullah tinggal di Madinah sebagian Jumada al-Akhirah dan Rajab, kemudian memerangi Banu al-Mushthaliq dari Khuza'ah pada Sya'ban tahun keenam. Ibnu Hisyam berkata: beliau menunjuk Abu Dzar al-Ghifari di Madinah, dikatakan juga Numailah bin Abdallah al-Laitsi. Ibnu Ishaq berkata: 'Ashim bin 'Umar bin Qatadah, Abdullah bin Abi Bakr, dan Muhammad bin Yahya bin Hibban menceritakan kepadaku:

masing-masing sebagian hadits Banu al-Mushthaliq; mereka berkata: sampai kepada Rasulullah bahwa Banu al-Mushthaliq berkumpul melawannya, dan pemimpin mereka al-Harits bin Abi Dirar, ayah Juwairiyah binti al-Harits, yang kemudian dinikahi Rasulullah. Ketika beliau mendengarnya, beliau berangkat menuju mereka hingga mendapati mereka di salah satu sumber air mereka bernama al-Muraisi', di sebelah Qudaid menuju pantai, dan manusia berdesakan dan bertempur di sana, dan Allah mematahkan Banu al-Mushthaliq, membunuh yang Dia bunuh dari mereka, dan Rasulullah membagikan anak-anak lelaki mereka, perempuan mereka, dan harta mereka, dan menjadikannya harta rampasan. al-Waqidi berkata: Rasulullah berangkat dua malam terlewati Sya'ban tahun kelima Hijrah dengan tujuh ratus dari sahabat-sahabatnya menuju Banu al-Mushthaliq yang sekutu Banu Mudlij, dan ketika sampai kepada mereka, beliau menyerahkan panji Muhajirin kepada Abu Bakr ash-Shiddiq, dikatakan kepada 'Ammar bin Yasir, dan panji Anshar kepada Sa'd bin 'Ubâdah, kemudian:

memerintahkan 'Umar bin al-Khaththab yang menyerukan di antara manusia: katakanlah: tiada tuhan selain Allah; lindungilah dengan itu diri dan harta kalian; dan mereka menolak, lalu saling melempar panah, kemudian Rasulullah memerintahkan kaum muslimin yang menyerbu dengan serbuan satu orang, dan tidak lolos dari mereka seorang pun; sepuluh dari mereka terbunuh dan seluruh sisanya ditawan, dan yang terbunuh dari kaum muslimin hanya satu orang. Dan telah tetap dalam dua Shahih dari hadits Abdallah bin 'Aun, ia berkata: aku menulis kepada Nafi' untuk menanyainya tentang doa sebelum pertempuran. Ia berkata: Rasulullah melakukan serbuan pada Banu al-Mushthaliq ketika mereka dalam kelalaian dan ternak mereka minum di air, membunuh para pejuang mereka dan menawan tawanannya, dan memperoleh pada hari itu, kurasa ia berkata, Juwairiyah binti al-Harits; dan Abdallah bin 'Umar mengabarkan kepadaku hal itu, dan ia berada dalam tentara itu. Ibnu Ishaq berkata: dan tertimpa pada hari itu seorang lelaki muslim bernama Hisyam bin Subabah:

yang ditimpa seorang lelaki Anshar yang mengiranya dari musuh dan membunuhnya karena keliru. Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa saudaranya Miqyas bin Subabah datang dari Makkah memperlihatkan Islam dan menuntut diyat saudaranya Hisyam kepada Rasulullah karena ia terbunuh karena keliru, dan beliau memberikan diyatnya. Kemudian ia tinggal sebentar lalu menyerang pada malam hari pembunuh saudaranya dan membunuhnya, lalu kembali murtad ke Makkah dan menuang syair: legalah jiwa dengan bermalam di dataran, bersandarkan tenunan dua jubahnya pada darah tengkorak; dan kesedihan jiwa sebelum pembunuhannya menumpuk dan menghalangi tidurku dari tempat tidur; telah kuamanatkan malamku dan kucapai balas dendamku, dan aku yang pertama kembali kepada para berhala; telah kuamanatkan (demi) Fihr dan kumuatkan akal dari kalangan Banu an-Najjar, para pemimpin Fari'. Aku berkata: dan karena itu Miqyas ini termasuk empat orang yang darahnya dihapus Rasulullah pada hari Fathu Makkah jika mereka ditemui bergantung pada tali-tali Ka'bah.

Yang paling mulia akan mengusir yang paling hina

Ibnu Ishaq berkata: dan semasa manusia berada di sumber air itu, datang gelombang manusia, dan bersama 'Umar bin al-Khaththab ada seorang lelaki upahannya dari Banu Ghifar bernama Jahjah bin Mas'ud yang menuntun kudanya, dan berdesakanlah Jahjah dan Sinan bin Wabar al-Juhani, maula Banu Auf bin al-Khazraj, di atas air, lalu bertempur; al-Juhani berseru: wahai golongan Anshar, dan Jahjah berseru: wahai golongan Muhajirin. Abdallah bin Ubay bin Salul marah, dan di dekatnya sekelompok kaumnya, di antaranya Zaid bin Arqam, pemuda yang baru. Ia berkata: kalian telah melakukan ini; mereka telah mencuri dari kami dan bertambah banyak di negeri kami; dan demi Allah, aku tidak menganggap jubah-jubah Quraisy ini selain seperti kata orang dahulu: engkau gemukkan anjingmu maka ia akan memakanmu; demi Allah, jika kami kembali ke Madinah, yang paling mulia di antara mereka akan mengusir yang paling hina di antara mereka; kemudian ia menghadap yang:

hadir dari kaumnya dan berkata: inilah yang telah kalian lakukan terhadap diri kalian sendiri; kalian telah membolehkan mereka di negeri kalian dan membagi dengan mereka harta kalian; demi Allah, seandainya kalian menahan diri dari mereka, niscaya mereka tidak tinggal di tangan kalian dan akan berpindah ke tempat selain tempat kalian. Zaid bin Arqam mendengar itu dan datang bersamanya menghadap Rasulullah, dan itu ketika Rasulullah baru saja selesai dengan musuhnya, dan ia memberitahukan kepadanya berita itu, dan di dekatnya 'Umar bin al-Khaththab yang berkata: perintahkan 'Abbad bin Bisyar membunuhnya. Rasulullah berkata: bagaimana mungkin, wahai 'Umar; nanti manusia mengatakan Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya; bukan, tetapi perintahkan keberangkatan; dan itu pada waktu beliau biasanya tidak berangkat, maka manusia berangkat, dan Abdallah bin Ubay bin Salul mendatangi Rasulullah ketika sampai kepadanya bahwa Zaid:

bin Arqam telah menyampaikan kepadanya apa yang ia dengar darinya, dan bersumpah demi Allah: aku tidak mengatakan apa yang ia katakan dan tidak berbicara dengan itu; dan ia dalam kaumnya sangat mulia, dan para Anshar dari sahabat Nabi yang hadir pada Rasulullah berkata: wahai rasul Allah, mungkin pemuda itu keliru dalam riwayatnya dan tidak mengingat apa yang dikatakan lelaki itu, condong kepada Ibnu Ubay dan melindunginya; dan ketika Rasulullah bergerak dan berjalan, Usaid bin Hudhair mendapatinya dan memberi salam dengan salam kenabian dan berkata: wahai rasul Allah, demi Allah engkau berangkat pada waktu yang aneh yang engkau biasanya tidak kembali. Rasulullah berkata kepadanya: tidakkah sampai kepadamu apa yang dikatakan sahabatmu? Ia berkata: sahabat siapa, wahai rasul Allah? Beliau berkata: Abdallah bin Ubay. Ia berkata: apa yang ia katakan? Beliau berkata: ia mengklaim bahwa jika ia:

kembali ke Madinah, yang paling mulia di antara mereka akan mengusir yang paling hina di antara mereka. Ia berkata: tetapi engkau, demi Allah, wahai rasul Allah, akan mengusirnya jika engkau mau; dialah demi Allah yang hina dan engkau yang mulia; kemudian ia berkata: wahai rasul Allah, berlaku lembutlah terhadapnya, karena demi Allah, Allah membawa kepada kami berkat engkau, dan kaumnya menautkan untuknya kalung agar dimahkotai, dan ia melihat engkau telah mengambil darinya kerajaan. Kemudian Rasulullah berjalan bersama manusia sepanjang siang mereka hingga sore dan malam mereka hingga pagi dan awal siang mereka hingga matahari menyakitkan mereka, kemudian beliau berkemah bersama manusia, dan begitu merasakan sentuhan tanah, mereka langsung tertidur, dan beliau lakukan itu untuk mengalihkan manusia dari pembicaraan semalam, riwayat Abdallah bin Ubay. Kemudian Rasulullah berangkat bersama manusia dan menyusuri Hijaz hingga berkemah di sebuah sumber air Hijaz:

di atas an-Naqi' bernama Baqa'. Ketika Rasulullah berangkat, angin badai sangat kencang berhembus kepada manusia dan menyakitkan mereka, dan mereka takut kepadanya. Rasulullah berkata: jangan kalian takut, karena ia berhembus untuk kematian seorang besar dari kalangan besar orang-orang kafir; dan ketika mereka tiba di Madinah, mereka mendapati Rifa'ah bin Zaid bin ath-Tabuth, salah seorang Banu Qainuqa', yang merupakan seorang besar dari kalangan besar kaum Yahudi dan tempat berteduh para munafik, wafat pada hari itu; demikian menyebutkan Musa bin Uqbah dan al-Waqidi; dan Muslim meriwayatkannya melalui jalur al-A'masy dari Abu Sufyan dari Jabir kisah semisal ini, kecuali ia tidak menyebutkan yang wafat dari para munafik, dan berkata: angin badai sangat kencang berhembus semasa Nabi dalam salah satu perjalanannya, ia berkata: ini untuk kematian seorang munafik; dan ketika kami tiba di Madinah, ternyata:

wafat seorang besar dari kalangan besar para munafik. Ibnu Ishaq berkata: dan turunlah surat yang di dalamnya Allah menyebut para munafik tentang Ibnu Ubay dan yang mengikuti teladanannya, dan Rasulullah mencengkeram telinga Zaid bin Arqam dan berkata: inilah telinga yang telah menunaikannya kepada Allah. Kami telah membahas tafsirnya seluruhnya dalam kitab tafsir kami dengan yang cukup, tanpa perlu mengulangnya di sini; dan kami telah merinci jalur-jalur hadits Zaid bin Arqam ini, dan hanya kepada Allah pujian dan karunia; siapa yang ingin berhenti padanya atau suka menulisnya di sini, maka carilah dari sana; dan keberhasilan hanya dengan Allah. Ibnu Ishaq berkata: 'Ashim bin 'Umar bin Qatadah menceritakan kepadaku bahwa Abdallah, anak Abdallah bin Ubay bin Salul, datang kepada Rasulullah dan berkata: wahai rasul Allah, telah sampai kepadaku bahwa engkau hendak membunuh Abdallah bin Ubay karena apa yang sampai kepadamu darinya; jika engkau:

melakukannya, perintahkanlah kepadaku, dan akan kuporterikan kepalanya kepadamu; dan demi Allah, kaum Khazraj telah mengetahui bahwa tidak ada di antara mereka lelaki yang lebih berbakti kepada ayahnya daripada aku, dan aku khawatir engkau memerintahkan selain aku membunuhnya lalu ia membunuhnya, maka aku tidak akan sanggup melihat pembunuh Abdallah bin Ubay berjalan di antara manusia, lalu membunuhnya, dan membunuh seorang mukmin karena seorang kafir, dan masuk neraka. Rasulullah berkata: bukan, kami akan berlaku lembut terhadapnya dan bersahabat baik selama ia bersama kami; dan beliau menjadikan, ketika muncul urusan, kaumnya sendirilah yang menegurnya dan menahannya dan membencinya. Rasulullah berkata kepada 'Umar bin al-Khaththab ketika sampai kepadanya urusan mereka: apa pendapatmu, wahai 'Umar? Demi Allah, seandainya aku membunuhnya pada hari engkau berkata kepadaku: bunuhlah, niscaya kaum Auf mengamuk; dan jika aku memerintahkan mereka:

hari ini membunuhnya, niscaya mereka membunuhnya. 'Umar berkata: demi Allah, aku mengetahui bahwa perintah Rasulullah lebih besar keberkahannya daripada perintahku. Dan Ikrimah dan Ibnu Zaid menyebutkan bahwa anaknya Abdallah menahan ayahnya Abdallah bin Ubay bin Salul di pintu-pintu Madinah dan berkata: berhentilah, karena demi Allah engkau tidak akan masuk ke dalamnya hingga Rasulullah mengizinkanmu; dan ketika Rasulullah datang, ia meminta izin kepadanya dan beliau mengizinkannya, dan ia membiarkannya masuk hingga ia masuk ke Madinah. Ibnu Ishaq berkata: dan tertimpa pada hari itu dari Banu al-Mushthaliq beberapa orang, dan Ali bin Abi Thalib membunuh dari mereka dua lelaki, Malik dan anaknya. Ibnu Hisyam berkata: seruan perang kaum muslimin adalah: wahai kalian yang ditolong, bunuhlah, bunuhlah. Ibnu Ishaq berkata: dan Rasulullah memperoleh dari mereka banyak tawanan dan membagikannya di antara kaum muslimin.

Nazar yang terhalang: Juwairiyah dan perjanjian tebusan

al-Bukhari berkata: Qutaibah bin Sa'id meriwayatkan kepada kami, Isma'il bin Ja'far mengabarkan kepadaku dari Rabi'ah bin Abi Abd ar-Rahman dari Muhammad bin Yahya bin Hibban dari Ibnu Muhaivrizh, ia berkata: aku masuk masjid dan melihat Abu Sa'id al-Khudri, lalu duduk di dekatnya dan menanyainya tentang 'azl. Abu Sa'id berkata: kami berangkat bersama Rasulullah dalam ghazwah Banu al-Mushthaliq dan memperoleh tawanan-tawanan, tawanan-tawanan orang Arab, dan kami menghendaki perempuan-perempuan itu dan kesendirian menjadi mendesak bagi kami, dan kami suka 'azl dan berkata: kita ber-'azl semasa Rasulullah ada di antara kita sebelum menanyainya, maka kami menanyakannya. Beliau berkata: tidak ada yang menghalangi kalian melakukannya, ia:

tidak ada jiwa yang akan diciptakan hingga hari kiamat kecuali ia diciptakan; demikian Muslim meriwayatkannya. Ibnu Ishaq berkata: dan termasuk yang diperoleh pada hari itu dari tawanan perempuan adalah Juwairiyah binti al-Harits bin Abi Dirar, dan Muhammad bin Ja'far bin az-Zubair menceritakan kepadaku dari Urwah dari 'Aisyah, ia berkata: ketika Rasulullah membagikan tawanan perempuan Banu al-Mushthaliq, gugurlah Juwairiyah binti al-Harits dalam bagian Tsabit bin Qais bin Syammas, atau sepupunya, dan ia berjanji kepadanya atas dirinya sendiri, dan ia perempuan yang menawan dan memikat yang tidak dilihat seseorang kecuali ia memikatnya, dan ia datang kepada Rasulullah meminta bantuannya atas janjinya, dan ia:

berkata: demi Allah, aku tidak kecuali melihatnya di pintu bilikku lalu membencinya, dan aku tahu beliau akan melihat darinya apa yang kulihat. Ia masuk kepadanya dan berkata: wahai rasul Allah, aku Juwairiyah binti al-Harits bin Abi Dirar, pemimpin kaumnya, dan aku tertimpa musibah yang engkau ketahui dan gugur dalam bagian Tsabit bin Qais bin Syammas, atau sepupunya, dan aku berjanji kepadanya atas diriku sendiri, dan aku datang kepadamu mencari pertolonganmu atas janjiku. Beliau berkata: adakah yang lebih baik bagimu darinya? Ia berkata: apakah itu, wahai rasul Allah? Beliau berkata: aku melunasinya janjinya dan menikahimu. Ia berkata: ya, wahai rasul Allah. Beliau berkata: sudah selesai. Dan ia berkata: dan:

berita itu keluar kepada manusia bahwa Rasulullah telah menikahi Juwairiyah binti al-Harits, dan manusia berkata: kami adalah sekutu Rasulullah, maka mereka memerdekakan apa yang ada di tangan mereka; dan ia berkata: dan dimerdekakan karena pernikahannya dengannya seratus rumah tangga dari Banu al-Mushthaliq, dan aku tidak mengetahui perempuan yang menjadi keberkahan lebih besar bagi kaumnya daripada dia. Kemudian Ibnu Ishaq menyebutkan riwayat ifk seluruhnya dalam ghazwah ini, dan demikian pula al-Bukhari dan lebih dari seorang ahli ilmu, dan kami telah menetapkan jalur-jalur semua itu dalam tafsir surat an-Nur, maka hendaklah ia dirujuk seluruhnya di sini; dan hanya kepada Allah pertolongan diminta.

al-Waqidi berkata: Haram meriwayatkan kepada kami dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya: Juwairiyah binti al-Harits berkata: aku bermimpi tiga malam sebelum kedatangan Nabi seakan-akan bulan berjalan dari Yatsrib hingga jatuh ke pangkuanku, dan aku enggan memberi tahu siapa pun dari manusia hingga Rasulullah datang; dan ketika kami ditawan, aku mengharapkan mimpi itu. Ia berkata: Rasulullah memerdekakanku dan menikahiku; dan demi Allah, aku tidak berbicara kepadanya tentang kaumku hingga kaum muslimin sendiri yang mengirim mereka; dan aku tidak merasakan kecuali seorang budak perempuan dari sepupu-sepupuku memberitahuku berita itu, maka aku memuji Allah Yang Mahatinggi. al-Waqidi berkata: dikatakan Rasulullah menjadikan maharnya pembebasan seluruh tawanan Banu al-Mushthaliq, dan dikatakan beliau menjadikan maharnya pembebasan empat puluh orang dari Banu al-Mushthaliq. Musa bin Uqbah menyebutkan bahwa Banu al-Mushthaliq, ayahnya mencarinya dan menebusnya, kemudian Rasulullah melamarnya darinya, dan ia menikahkannya kepadanya.

Para sariyyah dan urusan 'Ukl dan 'Urainah

Inilah bab penyebutan para sariyyah dan bau'ah yang terjadi pada tahun keenam Hijrah, dan ringkasannya adalah yang diriwayatkan al-hafizh al-Baihaqi dari al-Waqidi: pada Rabi' al-Awwal tahun ini, atau al-Akhir, Rasulullah mengutus 'Uqqasyah bin Mishshan dengan empat puluh orang menuju Ghamr Marzuq, sebuah sumber air Banu Asad, dan mereka lari darinya, lalu beliau berkemah di sumber-sumber air mereka, mengirim pengejaran ke belakang mereka, mengambil dari mereka dua ratus unta dan membawanya ke Madinah. Dan pada bulan itu pengiriman Abu Ubaidah bin al-Jarrah menuju Dzul-Qashshah juga dengan empat puluh orang, dan mereka berjalan malam mereka dengan berjalan kaki hingga mendapatinya dalam kegelapan pagi, dan mereka lari darinya ke puncak-puncak gunung, dan ia menawan dari mereka seorang lelaki dan datang membawanya kepada Rasulullah, dan ia masuk Islam; dan pengiriman Muhammad bin Maslamah dengan sepuluh orang, dan kaum itu menyergap mereka hingga mereka tertidur, dan para sahabat Muhammad bin Maslamah terbunuh semua, dan ia lolos terluka; dan pada bulan itu:

pengiriman Zaid bin Haritsah menuju al-Humus, dan ia mendapatkan seorang perempuan dari Muzainah bernama Halimah yang menunjukkan kepada mereka suatu suku dari suku-suku Banu Sulaim, dan mereka mendapatkan dari sana ternak, domba, dan tawanan, dan di antara mereka suami Halimah itu, dan Rasulullah memberikan hadiah perempuan itu kepada suaminya dan memerdekakan keduanya; dan pada bulan itu juga pengiriman Zaid bin Haritsah pada Jumada al-Ula menuju Banu Tsa'labah dengan lima belas orang, dan para badui lari darinya dan ia mengambil dari ternak mereka dua puluh unta, kemudian kembali setelah empat malam; dan pada bulan itu berangkat Zaid bin Haritsah pada Jumada al-Ula menuju al-'Is. Ia berkata: dan pada bulan itu dirampas harta yang ada dengan Abu al-'Ash bin ar-Rabi', dan ia meminta perlindungan Zainab binti Rasulullah dan ia melindunginya, dan Ibnu Ishaq menyebutkan kisahnya ketika dirampas kafilah yang ada dengannya dan para sahabatnya terbunuh dan ia lolos hingga sampai ke Madinah, dan istrinya:

Zainab binti Rasulullah telah berhijrah setelah Badr, dan ketika ia datang ke Madinah ia meminta pertolongannya dan ia melindunginya setelah salat Subuh, dan Rasulullah melindunginya untuknya dan memerintahkan manusia mengembalikan apa yang mereka ambil dari kafilahnya, dan mereka mengembalikan segala yang mereka ambil darinya hingga tidak hilang darinya apa pun; dan ketika ia kembali membawanya ke Makkah dan mengembalikan kepada kaumnya apa yang ada dengannya dari titipan, ia masuk Islam dan keluar dari Makkah kembali ke Madinah, dan Rasulullah mengembalikan istrinya Zainab dengan pernikahan pertama tanpa pernikahan baru dan tanpa akad, sebagaimana telah disebutkan penjelasannya; dan di antara Islamnya dan hijrahnya enam tahun. Diriwayatkan dua tahun, dan kami telah menunjukkan tidak ada pertentangan antara kedua versi, karena Islamnya menyusul larangan waktu haramnya orang mukminah atas orang kafir dua tahun, dan Islamnya pada tahun delapan, tahun Fathu Makkah, dan bukan seperti yang:

bisa dipahami dari ucapan al-Waqidi bahwa ia pada tahun keenam, dan Allah lebih mengetahui. al-Waqidi menyebutkan pada tahun ini bahwa Dzihyah bin Khalifah al-Kalbi kembali dari tempat Kaisar dengan melewati (jalur) membawa kekayaan dan jubah-jubah kehormatan, dan ketika ia di Hismah, sekelompok ahli Judzam mendapatinya, memutus jalannya dan tidak meninggalkan baginya apa pun, maka Rasulullah mengirim ke belakang mereka Zaid bin Haritsah juga. al-Waqidi berkata: Abdallah bin Ja'far menceritakan kepadaku dari Ya'qub bin 'Utbah bahwa ia berkata: Ali 'alaihissalam berangkat dengan seratus orang hingga berkemah di sekitar suatu suku dari Banu Sa'd bin Bakr, dan itu karena sampai kepada Rasulullah bahwa mereka memiliki gerombolan yang hendak menguatkan kaum Yahudi Khaibar, maka beliau bergerak ke arah mereka pada malam dan bersembunyi pada siang, dan mendapatkan mata-mata mereka yang membenarkan bahwa ia telah diutus ke Khaibar menawarkan pertolongan mereka dengan kurma-kurma Khaibar; dan al-Waqidi, semoga Allah merahmatinya, berkata: dan pada tahun keenam:

pada Sya'ban tahun ini terjadi sariyyah Abd ar-Rahman bin Auf menuju Dumah al-Jandal, dan Rasulullah berkata kepadanya: jika mereka taat, nikahilah putri raja mereka, dan kaum itu masuk Islam, dan Abd ar-Rahman menikahi putri raja mereka, Tumadir binti al-Asbagh al-Kalbiyyah, dan ia ibu Abu Salamah bin Abd ar-Rahman bin Auf. al-Waqidi berkata: pada Syawal tahun keenam terjadi sariyyah Kurz bin Jabir al-Fihri menuju orang-orang 'Uriniyyin yang membunuh gembala Rasulullah dan membawa ternaknya, maka Rasulullah mengirim ke belakang mereka Kurz bin Jabir dengan dua puluh penunggang kuda, dan mereka mengembalikannya; dan urusan mereka adalah apa yang telah diuraikan al-Bukhari dan Muslim melalui jalur Sa'id bin Abi 'Arubah dari Qatadah dari Anas bin Malik: sekelompok 'Ukl dan 'Urainah, dan dalam satu versi dari 'Ukl atau 'Urainah, datang kepada Rasulullah dan berkata: wahai rasul Allah, kami kaum perdagangan dan bukan kaum pedalaman, dan demam Madinah telah menyergap kami; maka Rasulullah:

memerintahkan mereka kawanan unta dan seorang gembala, dan memerintahkan mereka keluar (ke sana) dan minum dari susu dan kencingnya, dan mereka pergi hingga berada di sekitar Harrah, lalu membunuh gembala Rasulullah dan membawa unta-unta itu dan kafir setelah Islamnya, dan Nabi mengirim pengejaran ke belakang mereka dan memerintahkan tentang mereka, memotong tangan dan kaki mereka, menyucuk mata mereka, dan membiarkan mereka di sekitar Harrah hingga mati dalam keadaan itu. Qatadah berkata: sampai kepada kami bahwa Rasulullah, ketika berkhutbah setelah itu, mendorong sedekah dan melarang menyiksa; dan hadits ini diriwayatkan sekelompok dari Qatadah dan sekelompok dari Anas bin Malik; dan dalam versi Muslim dari Mu'awiyah bin Qarrah dari Anas: sekelompok 'Urainah datang kepada Rasulullah, masuk Islam dan berbaiat kepadanya, dan telah muncul di Madinah demam yang disebut birsam. Mereka berkata: penyakit ini:

muncul, wahai rasul Allah; jika engkau mengizinkan kami, kami akan kembali ke unta-unta. Beliau berkata: ya, keluarlah dan beradalah di sana. Mereka keluar, membunuh kedua gembala, dan membawa unta-unta itu, dan (unta itu) ada anak-anak muda Anshar sekitar dua puluh, maka beliau mengirim mereka ke belakang mereka dan mengirim bersama mereka seorang pelacak yang akan menyusul jejak mereka, dan mereka didatangkan kepadanya, lalu beliau memotong tangan dan kaki mereka dan menyucuk mata mereka. Dan dalam Shahih al-Bukhari melalui jalur Ayyub dari Abu Qilabah dari Anas, ia berkata: datang sekelompok 'Ukl dan masuk Islam dan menjadi sehat di Madinah, lalu datang kepada Rasulullah dan menyebutkan hal itu kepadanya. Beliau berkata: pergilah ke unta-unta dan minumlah dari kencing dan susunya. Ia berkata: mereka pergi dan berada di sana selama Allah kehendak, kemudian membunuh gembala dan membawa unta-unta itu, dan seruan itu sampai kepada Rasulullah yang mengirim pengejaran ke belakang mereka, dan matahari belum terbit ketika mereka didatangkan kepadanya; beliau memerintahkan paku-paku yang:

dipanaskan dan ditempelkan pada mereka, memotong tangan dan kaki mereka, dan melempar mereka ke Harrah memohon minum tanpa diberi minum hingga mati tanpa diringkas (mautnya). Dan dalam satu versi dari Anas, ia berkata: dan sungguh aku melihat salah seorang dari mereka menggigit tanah dengan mulutnya karena dahaga. Abu Qilabah berkata: mereka membunuh, merampas, dan kafir setelah imannya, dan memerangi Allah dan rasul-Nya. al-Baihaqi meriwayatkan melalui jalur Utsman bin Abi Syaibah dari Abd ar-Rahman bin Sulaiman dari Muhammad bin Ubaidillah dari Abu az-Zubair dari Jabir bahwa Rasulullah, ketika mengirim ke belakang jejak mereka, berkata: wahai Allah, jadikanlah jalan mereka buta dan jadikanlah ia lebih sempit bagi mereka daripada usus unta. Ia berkata: Allah membutakan jalan mereka, dan mereka disusul dan didatangkan kepada Rasulullah yang memotong tangan dan kaki mereka dan menyucuk mata mereka; dan dalam Shahih Muslim, beliau tidak menyucuk mata mereka kecuali karena mereka telah menyucuk mata para gembala.

Peristiwa-peristiwa tahun itu: haji, para duta

Inilah bab apa yang terjadi sebagai peristiwa pada tahun ini, yaitu tahun keenam Hijrah. Di dalamnya turun ketetapan haji sebagaimana ditetapkan asy-Syafi'i pada masa Hudaibiyah, pada firman Yang Mahatinggi: dan tunaikanlah haji dan umrah karena Allah [al-Baqarah: 196]; dan karena itu beliau condong bahwa haji ditangguhkan dan bukan seketika, karena beliau baru berhaji pada tahun kesepuluh; sedangkan tiga orang membantahnya: Malik, Abu Hanifah, dan Ahmad; menurut mereka haji wajib atas setiap orang yang mampu secara seketika, dan mereka melarang wajibnya disimpulkan dari firman Yang Mahatinggi: dan tunaikanlah haji dan umrah karena Allah, dan dalam ayat itu:

hanya ada perintah mengerjakan setelah perubahan keadaan ihram saja, dan mereka berhujjah dengan dalil-dalil yang banyak kami riwayatkan saat tafsir ayat itu dalam kitab tafsir kami dengan yang cukup, dan hanya kepada Allah pujian dan karunia. Dan pada tahun ini diharamkan wanita muslimah atas para musyrik dengan menegaskan yang umum dari apa yang terjadi pada damai tahun Hudaibiyah atas firman-Nya: tidak akan datang kepadamu dari pihak kami seseorang walaupun seagamamu kecuali engkau mengembalikannya kepada kami; dan turun firman Allah Yang Mahatinggi: wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepadamu wanita-wanita mukminah sebagai muhajirah, maka ujilah mereka; Allah lebih mengetahui iman mereka; jika kalian mengetahui:

mereka orang mukminah, maka jangan kalian kembalikan mereka kepada orang-orang kafir; mereka tidak halal bagi mereka dan mereka pun tidak halal bagi mereka [al-Mumtahanah: 1], itulah ayatnya. Dan pada tahun ini terjadi ghazwah al-Muraisi' yang di dalamnya riwayat ifk dan turunnya penetapan tidak bersalahnya 'Aisyah ibu kaum mukminin sebagaimana telah disebutkan; dan di dalamnya umrah Hudaibiyah dan apa yang terjadi dari penolakan para musyrik kepada Rasulullah dan bagaimana damai disepakati antara mereka atas penghapusan perang antara mereka sepuluh tahun agar manusia saling percaya, dan atas tidak adanya pengkhianatan dan persekongkolan; dan semua itu telah lewat secara rinci pada tempat-tempatnya, dan hanya kepada Allah pujian dan:

karunia; dan haji tahun ini dihalangi para musyrik. al-Waqidi berkata: dan di dalamnya, pada Dzulhijjah tahun ini, Rasulullah mengutus enam orang pembawa surat: Hathib bin Abi Balta'ah menuju al-Muqauqis penguasa Iskandariyah; Syuja' bin Wahb dari Banu Asad bin Khuzaimah yang mengikuti Badr, menuju al-Harits bin Abi Syamir al-Ghassani, yaitu raja orang-orang Arab Nasrani di Syam; Dzihyah bin Khalifah al-Kalbi menuju Kaisar, yaitu Heraklius raja Romawi; Abdallah bin Huzaifah as-Sahmi menuju Kisra raja Persia; Shalit bin 'Amr al-'Amiri menuju Haudzah bin 'Ali al-Hanafi; dan 'Amr bin Umayyah ad-Dhamri menuju Negus raja kaum Nasrani di Habasyah, yaitu Asyamah putra Abjar.

Cette année en détail

بسم الله الرحمن الرحيم Rab 24 Rabiul Akhir
الأربعاء 24 ربيع الآخر
هلال متناقص Sabit Tua Hari 25.4 / 29.5
Iluminasi 18%
Bulan baru dalam 4 hari
سبحان الله Maha Suci Allah

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

QS. Al-Ahzab: 56

Shalawat Nabi